Bukit Jaddih: Dulu dan Sekarang

Bukit kapur Jaddih, adalah bekas penambangan batu kapur putih yang terletak di wilayah Bangkalan, Pulau Madura. Awalnya tempat ini jelas bukan tempat wisata, tapi sekarang menjadi salah satu tempat instagrammable di pulau ini. Kekuatan media sosial memang tidak diragukan menjadi salah satu faktor pemicu kedatangan wisatawan ke tempat ini.
Kedatangan wisatawan yang begitu sangat meningkat, membuat tempat ini mulai menjadi perhatian warga (atau mungkin pemerintah) setempat untuk mengelola tempat ini menjadi kawasan wisata. Dalam rentang dua tahun kunjungan saya, tempat ini sudah berubah sangat banyak.
Bukit Jaddih, 2016
Letak lokasi yang agak sedikit terpencil, membuat saya harus fokus memperhatikan Google Map dan lokasi dimana kami berada. Melewati jalan berdebu, sepi, dan bangunan yang masih jarang membuat saya (kali itu bersama dua orang teman perempuan) agak waswas dengan jalan yang katanya masih rawan kejahatan tersebut.
Tidak banyak petunjuk arah yang bisa kita ikuti, hanya menjadikan Pasar Jaddih sebagai patokan. Tapi karena weekend, agak banyak mobil-mobil pribadi yang menuju tujuan yang sama, sehingga kami tidak tersesat.

Kami berhenti di bagian bukit Jaddih yang datar, memperlihatkan keindahan bukit kapur yang siang itu pastinya panasss ?


Kala itu kami belum menemukan Danau Biru (sekarang Goa Pote), setelah melihat Danau Biru yang terletak agak di bawah, kami bergegas kesana dengan memindahkan mobil kami ke area tersebut. Sebelum mobil berjalan, kami dihampiri seorang yang mengaku sebagai petugas parkir.

Memasuki area Danau Biru, kami ditarik retribusi lagi. Ketika kami protes, petugasnya bilang wilayahnya sudah beda. Hmmmm, oke lah.

Karena siang hari yang sangat terik, bukit kapur yang berwarna putih, pemandangan danau yang berwarna tosca begitu cantik. Jangan lupa pasang kacamata hitammu. Hehe

Ada yang lagi prewed

Ada dua rakit kecil yang bisa digunakan pengunjung untuk menuju tengah danau.

Beberapa sudut tempat ini juga bisa dijadikan obyek berfoto.

Beberapa penjual ada di parkiran atas, kalau kita lapar atau haus karena kalau siang ke sini udaranya begitu terik.

Bukit Jaddih, 2018
Secara fasilitas jalan, tidak banyak perubahan. Masih berdebu, beberapa ada yang rusak, tidak ada petunjuk arah dan sepertinya juga masih rawan kejahatan. Secara Google Map pun sudah mengalami pemutakhiran data. Dulu kami menggunakan Pasar Jaddih sebagai patokan ketika mencari arah ke sana, sekarang tinggal ketik Bukit Jaddih, sudah terarah dengan baik.

Saya lebih suka lewat Bangkalan karena jalanan lebih baik dan lebih ramai (demi keamanan juga kan).

Kali ini penarikan retribusi lebih terstruktur (meskipun bayarnya tetep beberapa lapis). Ada petugas di depan jalan, sebelum memasuki kawasan bukit kapur. Kami sudah berprasangka baik dengan mikir kalau mungkin tempat ini sudah dikelola secara profesional. Tapi ternyata ketika memasuki Goa Pote, kami ditarik retribusi lagi. Mau komentar, tapi ya sudahlah.

Dan, saya sempat tak percaya kalau ini adalah tempat yang pernah saya kunjungi dua tahun yang lalu. Bedanya jauh banget, malah saya merasa salah tempat karena dulu namanya Danau Biru. Tulisan Goa Pote terpampang di salah satu tebing.

Apakah berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk? Tergantung darimana kita memandang.

Kala itu masih musim penghujan, jadi kita tidak akan melihat warna tosca malah warna hijau.

Saya sengaja tidak mengambil gambar semakin ke kiri dari gambar di atas, karena rasanya merusak pemandangan. Di sebelah kanan dari gambar, berjejer-jejer warung, bercampur dengan parkiran motor, yang menjadikannya tidak elok dipandang. Belum lagi, dua rakit kecil yang dulunya ada di pinggir danau, berganti dengan 3-4 rakit besar dengan hiasan beraneka rupa yang menurut saya too much untuk danau  yang sekarang luasnya pun dipersempit dengan ditambahi batu-batu besar, demi kepentingan estetika.

Perubahan yang paling mencolok adalah, area sebelah kanan danau yang sekarang diperluas. Berbeda dengan Danau Biru yang terbentuk alami karena peristiwa alam maupun pertambangan, pengelola agaknya ingin terus mempercantik tempat ini dengan menambah kolam buatan (yang saat ini masih on progress) berbentuk hati.

kolam bentuk hati (on progress)

Buat saya pribadi, perubahan-perubahan ini terlalu dipaksakan. Kesan alaminya jadi hilang, karena banyaknya penambahan-penambahan buatan di sana sini. Semoga saja, kolam buatannya bisa mempercantik tempat ini. Tapi, seharusnya pengelola bisa menertibkan penjual-penjual yang berada di bawah, jadinya malah terlalu sumpek.

Ditambah lagi, kalau memang ingin menjadikan tempat ini sebagai obyek wisata, seharusnya disediakan fasilitas yang memadai. Saya tidak melihat (atau mungkin gak tau) keberadaan toilet umum, dan di beberapa cerukan tebing tercium aroma pesing.

Saya berkunjung ke tempat ini sekitar bulan Mei. Kalau kondisi sekarang bagaimana ya? Ada yang baru-baru ini ke sini?

Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

By uphiet

An accounting who love books and do traveling to know more about the world than just a page

6 comments

  1. Itulah yang kadang-kadang bikin saya kurang suka kalau ada tempat wisata alam yang udah mulai dikenal. suka ditambahkan ini itu yang jadinya terkesan gak alami aja. Padahal biarin aja tetap alami, tetapi yang penting akses, keamanan, dll lebih ditingkatkan lagi

  2. Dulu rasa khawatir muncul dengan pengunjungnya sendiri yg kadang tidak bisa menjaga kebersihan, skrg ditambah dengan pengelola yang lebih mengedepankan spot wisata selfie daripada indahnya alam itu sendiri 🙁

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *