Semarang, Menyudahi Rencana yang Tertunda

Setahun lalu, sekitar awal bulan Juni rencana perjalanan saya ke Semarang sudah matang. Mobil travel sudah dipesan, hotel sudah dibooking, tiket kereta api pulang sudah dibeli. Bayangan kopi darat Goodreads Indonesia sudah terbayang di kepala. Tapi apalah daya, rencana tinggal rencana kalau takdir berkata lain. Ceritanya saya mendapat panggilan kerja di tempat baru dan jadwal orientasinya terjadwal sampai hari Sabtu, hari dimana saya seharusnya berada di kota Semarang.
Kecewa, pasti. Dan sejak saat itu, kota terbesar kelima di Indonesia itu selalu terbayang di kala tanggal merah menyilaukan mata saya 😀
Rencana itu baru terwujud kala libur Paskah awal April ini, di kala hari libur kerja saya adalah Sabtu dan Minggu.
Memanfaatkan tanggal merah di hari Jumat, pukul 6 pagi saya sudah berada di Stasiun Pasar Turi, menunggu keberangkatan kereta Maharani yang akan membawa saya menuju kota lumpia, Semarang. Empat setengah jam perjalanan, saya tiba di Stasiun Semarang Tawang. Karena Semarang yang terkenal dengan panasnya yang terik, dan teringat perjalanan ke Jogja Oktober tahun lalu, saya tidak mau lelah karena panasnya cuaca. Perjalanan kali ini tidak mau memaksa naik angkutan umum dengan alasan irit bujet tapi kelelahan, saya memutuskan naik taksi untuk menuju HOtel Merbabu di kawasan Jl. Pemuda.

Pemandangan pertama yang saya lihat adalah Polder Tawang yang….banyak banget itu orang mancing? Yang kemudian saya tahu bahwa sebelumnya telah diadakan lomba mancing dan pemkotnya telah mencemplungkan 1 ton ikan ke dalam polder. Waaahh, mungkin mereka sedang mencoba peruntungan memperoleh yang tertinggal 😀

Obyek pertama yang saya kunjungi adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Setelah bertemu dengan teman seperjalanan dan makan siang di Bakmi Djowo Pak Doel Noemani yang terletak tepat di depan hotel Merbabu, dengan taksi kami berangkat ke daerah Gayamsari tempat bangunan ibadah mirip Masjid Nabawi itu berada. Untuk ukuran kota besar, taksi di Semarang lumayan murah dibanding di kota Surabaya. Dari Jl. Pemuda ke MAJT kami mengeluarkan ongkos sebesar 25 ribu.

Bakmi Djowo Pak Doel, Jl. Pemuda

Beginilah penampakan MAJT, saat kami turun dari taksi.

Masjid Agung Jawa Tengah

Harapannya tadi, bisa melihat payung-payung itu terbuka. Karena menurut informasi yang saya gali dari internet, payung-payung itu biasanya terbuka di hari Jumat. Mungkin untuk melindungi jamaah sholat Jumat dari teriknya matahari Semarang. Waktu masih menunjukkan pukul 13.30 tapi payung masih/sudah tertutup 🙁

Mumpung masih belum ashar dan cuaca mendung ini belum jadi hujan, kami buru-buru menuju menara Al-Husnah untuk menuju puncak menaranya. Sebelum masuk, kami membayar biaya infaq sebesar 7 ribu, dan dibawa menuju lantai 19, lantai teratas. Sesampainya di atas, anginnya luar biasa!!! Mungkin karena mendung dan akan hujan, di ketinggian lantai 19 angin begitu keras berhembus. Untuk mengambil foto masjid dari atas pun saya harus berpegangan. Ah, saya salah kostum, hari ini saya pake rok 😀
MAJT dari atas Al Husnah
Dari lantai 19, kami turun ke lantai 3 dan 2 untuk melihat-lihat Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah. Sebenarnya masih penasaran ke lantai 18, yang katanya lantai restorannya bisa berputar. Tapi berhubung belum lapar dan sungkan kalau ke sana tapi gak makan, kami langsung ke lantai 3 😀
Buru-buru kami kembali ke masjid ketika rintik hujan mulai turun. Masjid sebesar ini sayangnya tidak diimbangi dengan petunjuk yang membantu. Saya muter beberapa kali untuk mencari tempat wudhu, karena kran-kran wudhu yang berjajar di bawah tangga tidak berfungsi.
Akhirnya kami memutuskan ke bagian belakang masjid, dan menemukan ini. Tada!!!

Karena suasana yang lumayan ramai dengan banyaknya rombongan yang berkunjung, saya memutuskan hanya mengambil wudhu lalu kembali ke lantai atas (lah, mau apalagi coba?). Banyak pengunjung yang memanfaatkan toilet masjid untuk mandi, bahkan saya liat ada yang cuci piring segala di tempat wudhu. Hmmm, jangan-jangan ada yang cuci baju juga di sini. Hehehehe
MAJT
Sepulang dari sana, sebenarnya berencana nongkrong dan menikmati malam di Tugu Muda atau mungkin ke Pasar Semawis di Pecinan. Tapi karena hujan, kami akhirnya memutuskan jalan-jalan dan makan malam di mall Paragon di sebelah hotel. Jauh-jauh ke Semarang ngemall juga ternyata 😀
Jalan-jalan ke Tugu Muda juga sih, menikmati lebarnya trotoar jalan Pemuda atau suasana malam di Lawang Sewu, tapi sepi. Efek hujan kali ya…
Lawang Sewu di malam hari
to be continued….

Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

By uphiet

An accounting who love books and do traveling to know more about the world than just a page

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *