Memasuki Mesin Waktu, Menjelajahi Surabaya Tempo Dulu

Setiap tempat punya kisah sejarahnya sendiri, sebuah cerita panjang yang bukan hanya pahit dikenang akan kegagalannya tapi juga manis dikenang karena kesuksesannya setelah bangkit lagi.

Surabaya atau warga lokal menyebut Suroboyo memiliki sejarah yang kuat di masa lalu. Julukan kota Pahlawan bukan sekedar julukan, ini  merujuk pada kisah heroik Arek-Arek Suroboyo dalam berjuang melawan penjajah.

Jauh sebelum kisah kepahlawanan itu, Surabaya telah menjadi ibukota Provinsi Jawa Timur, kota terbesar kedua di Nusantara setelah Batavia (Jakarta). Tidak heran banyak tempat-tempat bersejarah tersebar di berbagai bagian Surabaya, khususnya Surabaya Utara dan Surabaya Pusat.

Saya berkesempatan menikmati secuil sejarah dari kota metropolitan ini dalam sehari. Kesampingkan dulu kunjungan ke mall, masuki mesin waktu dan nikmati Surabaya tempo dulu.

Sarapan Sate Klopo Ondomohen

Berada di Jalan Walikota Mustajab, warung ini selalu ramai. Hanya sebuah warung sederhana dengan tempat masak di bagian depan. Deretan sate siap dibakar oleh pegawainya, pilihannya daging sapi atau daging ayam.

Satu meja kosong di depan kasir saya tempati sambil menunggu pesanan. Hanya perlu waktu sebentar untuk menunggu.

Klopo atau kelapa dalam Bahasa Indonesia, menjadi bahan yang membuat sate ini berbeda. Karena setiap daging satenya dibaluri bumbu kelapa parut yang gurih saat dibakar. Sepiring sate dengan bumbu kacang dan kecap, irisan bawang, potongan cabe, dan serundeng disajikan dengan nasi atau lontong di piring terpisah.

Apa itu Ondomohen?

Kabarnya di tahun 1945 mertua dari pemilik warung (yang sekarang) berjualan di Jalan Ondomohen yang berubah menjadi Jalan Walikota Mustajab. Awalnya warung terdapat di seberang jalan yang kemudian semakin berkembang dan berpindah di lokasi yang sekarang.

Sudah 70 tahun lebih!

Mengingat warung ini selalu ramai, rasa sudah tidak diragukan. Coba saja datang saat makan siang, harus siap antri demi sepiring sate klopo Ondomohen.

Merekam Jejak Industri Rokok Kretek di House of Sampoerna

Memasuki halaman kompleks House of Sampoerna kita akan disambut dengan tiga bangunan tua yang terlihat cantik. Sebuah bangunan yang difungsikan sebagai kafe dan art gallery berada paling luar, museum di tengah, dan paling dalam adalah rumah Keluarga Sampoerna.

Berada di area Surabaya lama, bangunan ini awalnya adalah panti asuhan putra yang dikelola Pemerintah Belanda di tahun 1862. Pantas saja bangunannya bernuansa kolonial yang sangat kental. Di tahun 1932, pendiri Sampoerna yang bernama Liem Seeng Tee membeli bangunan ini dan menjadikannya sebagai tempat pertama produksi rokok.

Memasuki museum kita akan disambut oleh staf yang ramah dan aroma kretek yang begitu kental. Sumber dari aroma ini mungkin berasal dari aneka jenis tembakau dan cengkeh yang dipajang di ruangan depan. di ruangan ini ditampilkan proses pengolahan tembakau.

 

Di ruangan berikutnya terdapat bukti sejarah pengelolahan perusahaan Sampoerna. Misalkan, sepeda ontel yang dulu digunakan berdagang atau ruang kerja dengan foto keluarga dari masa ke masa. Menggambarkan bahwa usaha rokok kretek ini tidak begitu saja mendulang kesuksesan. Ada proses luar biasa yang dilakukan dalam rentang waktu hingga menjadi perusahaan yang besar.

Di ruangan ketiga dipamerkan alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan rokok kretek. Ada alat laboratorium, timbangan, dan instrumen lain. Di sini juga diperkenalkan berbagai produk rokok yang pernah diproduksi oleh Sampoerna. Bahkan, rokok yang beredar secara internasional.

Beranjak ke lantai dua, pada dinding sepanjang tangga dipamerkan reklame yang pernah diterbitkan oleh Sampoerna. Tepat di anak tangga teratas terdapat penanda larangan memotret. Yup, kita simpan dulu kamera di tas.

 

Di lantai dua ini terdapat merchandise store. Bukan hanya merchandise House of Sampoerna, tapi juga khas Surabaya seperti kaos, mug, dan gantungan kunci. Selain itu, alasan dari larangan memotret adalah karena di sini terdapat jendela pandang yang memungkinkan kita melihat langsung proses produksi rokok di bawah.

Di dalam ruang produksi rokok berderet-deret pegawai, rata-rata perempuan, yang sedang melinting rokok. Ada seratus pegawai lebih, yang bekerja dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu satu jam bisa menghasilkan 300an batang rokok per orang.

Melihat proses pelintingan rokok ini menjadi hiburan tersendiri. Dengan kecepatan tinggi, dengan gerakan berulang, yang terlihat seirama satu sama lain, membuat mereka terlihat seperti menari.

Keluar dari museum, terdapat taman yang memisahkan museum dengan kafe. Di taman ini terdapat pintu masuk menuju ruang produksi yang kita lihat tadi, pastinya pengunjung dilarang masuk. Ada beberapa bangku taman yang bisa digunakan untuk istirahat sejenak setelah keliling museum.

 

 

Siapa bilang belajar sejarah menjadi hal yang membosankan. House of Sampoerna menjadikan museum suatu kegiatan yang fun dan bisa menjadi salah satu tujuan wisata cagar budaya yang menyenangkan di Surabaya. Salah satu program fun yang ditawarkan adalah Surabaya Heritage Track. Apakah itu?

Surabaya Heritage Track adalah program berkeliling tempat bersejarah di Surabaya dengan menggunakan bus yang disediakan secara gratis. Durasinya sekitar 1,5-2 jam yang dimulai dari House of Sampoerna dan akan berakhir di tempat yang sama. Untuk mengikuti program ini kita diharuskan mendaftar di kafe yang berada di samping museum. Berikut jadwalnya

Kenikmatan Klasik Es Krim Zangrandi

Menutup petualangan singkat di Surabaya, es krim adalah pilihan yang sempurna. Dan Zangrandi adalah pilihan yang tepat untuk mengakhiri petualangan mengulik secuil sejarah di Surabaya. Kenapa begitu?

Kedai es krim Zangrandi sudah ada sejak tahun 1930an. Bisa dikatakan Zangrandi adalah salah satu saksi sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo membela kemerdekaan. Berdiri saat Indonesia dikuasai oleh Belanda bukan berarti kedai es krim ini bercitarasa Belanda. Zangrandi adalah es krim Italia. Didirikan oleh keluarga Roberto Zangrandi yang tinggal di Surabaya kala itu. Zangrandi adalah kedai es krim pertama di Surabaya.

 

Menghadirkan cita rasa klasik, Zangrandi tetap mempertahankan keotentikannya. Es krim dibuat homemade menggunakan bahan alami tanpa perasa buatan. Beberapa menu klasik tetap disajikan, seperti Tutti Frutti, Banana Split, dan Macedonia.

Berkunjung saat weekend harus sabar mengantri karena pengunjungnya tidak pernah sepi. Kalau jaman dahulu terkenal sebagai tempat berkumpulnya sosialita Belanda, sekarang tempat hangoutnya anak gaul Surabaya. Belum gaul kalau belum pernah ke Zangrandi. Hahaha…..

Beruntung saya tidak antri lama dan dapat tempat di bagian teras. Zangrandi berada di tepi Jalan Yos Sudarso, berhadapan langsung dengan Balai Pemuda. Sambil ngobrol, icip-icip es krim, dan menikmati suasana jalanan Surabaya. Bonus sedikit polusi kendaraan bermotor tak apalah.

Banana Split, Macedonia, dan Rock Canyon yang memiliki citarasa berbeda dengan es krim masa kini wajib dicoba sebagai penutup perjalanan hari ini.

Have a good journey!

 

@uphiet_kamilah

By uphiet

An accounting who love books and do traveling to know more about the world than just a page

18 comments

  1. Kakak Uphiet bikin saya kangen ke Surabaya lagi siiiihhhh baca pos iniiiiii hiks … I miss Surabaya so much hehehe, pengen bisa nyekar ke makam Mbak Kakung dan paman 🙁

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *