Wisata Ke Lombok, “coba lebih lama…”

Setelah keinginan yang lama mengendap di angan-angan, hari itu, 20 Februari 2015, keinginan yang tadinya hanya tertulis di wishlist journal itu resmi dicoret dan menjadi kenyataan. Yup! Akhirnya saya menginjakkan kaki di Pulau Lombok!!

23. traveling ke Lombok  DONE!!

Bermodal minim dan sisanya karena faktor luck, jam 7.30 waktu setempat saya sudah melenggangkan kaki di lengangnya Bandara Internasional Praya. Bersiap-siap menikmati indahnya Lombok yang katanya memukau dunia.
Dengan mobil sewaan, kami memulai dengan menikmati sarapan khas Lombok, nasi balap puyung di RM Cahaya yang tidak jauh dari bandara. Rasanya? Enak tapi pedesss!! Saya sih suka makanan pedas, tapi tidak di pagi hari ketika perut keroncongan dan mata masih setengah terbuka efek dari penerbangan pagi 🙁

Gak ada fotonya karena keburu laperr. Hehehe…

Setelah isi bensin, baik penumpang maupun mobilnya, kami menuju Desa Sade, Desa Budaya Suku Sasak. Di sana kami ditemani dengan pemandu yang merupakan penduduk setempat untuk berkeliling melihat rumah adat dan hasil kerajinan di desa Sade. Selain tentang kondisi rumah dan kerajinan, pemandu juga menerangkan tentang adat pernikahan suku sasak, terutama tentang calon pengantin pria yang biasanya menculik sang wanita sebelum meminta restu keluarga. Wah, ini yang disukai teman-teman di rombongan, bolak-balik nanya mulu dari tadi 😀

Di sini kerajinan khas suku Sasak juga dipajang, di antaranya sarung atau kain songket yang dibuat oleh para wanita suku Sasak. Bikin ngiler, semakin bagus semakin mahal. Tapi sesuai sih dengan proses pembuatannya.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan menuju pesisir pantai Lombok Selatan. Perjalanan yang cukup lama tidak saya sia-siakan untuk mencuri tidur, menyimpan tenaga untuk siap-siap terpesona ketika tiba di tempat tujuan nanti.

Inilah pantai pertama di Lombok yang menyapa mata saya, Pantai Mawun yang ketenangannya membuai saya. Anggun!

Hanya ada dua tiga turis yang terlihat berjemur. Penjaja dagangan pun beberapa yang terlihat. Suasananya tenang. Coba lebih lama di sini 🙁
Sayangnya, teman-teman satu rombongan hanya menghabiskan waktu untuk mengambil foto, mengabadikan diri sebagai pembuktian I was here lalu buru-buru ingin melihat tempat lain. Tidak sampai 30 menit berada di sana, kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Pantai Kuta yang lebih ramai. Deretan kios penjual suvenir berjajar sepanjang jalan memasuki kawasan Pantai Kuta. Beberapa penjaja juga terlihat berkumpul di sekitar pantai. Tapi berhubung kami diingatkan Pak Sopir agar tidak berusaha menawar barang dagangan apabila tidak benar-benar ingin membeli. Seperti sebelumnya, di sini pun waktu yang dihabiskan kurang dari 30 menit. Coba lebih lama… 🙁
Saking ekspresnya menikmati pantai ini, saya sampai lupa mengecek apakah benar pasir pantainya seperti merica, seperti kata kebanyakan orang. Lagi-lagi saya sedih…

Rute berikutnya adalah menuju Desa Sukarare, tempat dijualnya hasil kerajinan suku Sasak. Di sana juga dipamerkan cara pembuatan songket, seperti ini:
Setelah puas keliling-keliling dan sempat mampir di pusat oleh-oleh, yang menyebabkan tenaga terkuras dan perut keroncongan akhirnya rombongan kami mampir di RM Taliwang Irama, yang katanya belum ke Lombok kalau belum mampir dan mencicipi rasa ayam taliwang dan plecing kangkungnya. Hmm, plecing kangkungnya enaaaaak, pedesnya mantap, dan yang bikin surprise sebagai orang yang tidak suka dengan lauk tahu, di sini saya malah suka bangettt. Tekstur tahu Lombok seperti tekstur tahu sutra, lembuuut. Atau memang itu tahu sutra ya 😀

Ayam Taliwang

Keliling-keliling hari pertama diakhiri dengan check in di hotel yang sudah kami pesan di pusat kota Mataram, yaitu di Lombok Plaza Hotel. Cuzzz, langsung tidur dehhh 😀

Hari kedua dimulai tepat jam 8 pagi. Setelah sarapan pagi dan sekaligus check out dari hotel, kami berangkat menuju Gili Trawangan!!! Keluar dari kota Mataram, menuju pesisir Senggigi, baru tahu saya apa yang dimaksud dengan surga di Lombok. Ini sih, kereeeen. Sepanjang mata memandang, hamparan laut biru dan debur ombak berada di kiri jalan dan tingginya tebing di kanan jalan.

Senggigi

Pulau Gili dari Bukit Malimbu II

Setelah kemarin sempat sedikit gerimis, berharap semoga hari ini cuaca cerah dan ombaknya bersahabat.

Sesampai di Pelabuhan Bangsal, saya disambut dengan pemandangan antrian para penumpang perahu yang tidak saja turis dan penduduk lokal, tapi juga banyak turis mancanegara. Seperti kata pemandu kami, di Gili Trawangan, turis lokallah yang jadi minoritas karena banyaknya turis mancanegara yang berkunjung ke pulau indah itu.
Semoga saja cuacanya bersahabat yaaa… 😛
Pelabuhan Bangsal

Kenyataan tidak selalu seindah harapan. Ombaknyaaaa 🙁

Tinggi ombak yang menyamai bahkan terlihat lebih tinggi dari dinding perahu motor yang kami tumpangi, membuat saya sampai detik ini rasanya masih takut untuk naik perahu motor di lautan luas lagi. Saya kan tidak bisa berenang 🙁
Lagi-lagi, karena cuaca yang kurang bersahabat, rombongan diharapkan kembali sebelum pukul 1 siang atau ombaknya akan lebih-lebih dari yang tadi. Padahal waktu kami sampai di Gili Trawangan, waktu sudah jam 11 siang. Ahhh, yaweslah diusahakan menikmati 😀
Gili Trawangan

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Harus merasa puas supaya liburannya gak terlalu kecewa 😀

Tapi timbul niat di hati suatu hari akan kembali ke Gili Trawangan, bukan hanya untuk menikmati perjalanan sejam dua jam. Pengen nginap dan menikmati pulau indah ini secara keseluruhan. Belum keturutan keliling pulau dengan menyewa sepeda atau naik cidomo. Balik laginya, setelah berani naik perahu motor di lautan luas pastinya 😀

Yang semakin bikin trauma naik perahu adalah ketika baliknya ke pelabuhan Bangsal, ombaknya lebih besar dari ketika berangkat tadi. Padahal masih jam 1 siang. Tapi, mendung gelap di atas semakin menambah ketakutan akan terjadi apa-apa selama penyeberangan. Aduuuuhhh gak mau ngaku-ngaku pemberani deh kalau sudah berhadapan sama ombak ganas ini. Apalagi beberapa saat sebelum perahu merapat, gerimis mulai turun dan semakin deras ketika mobil rombongan kami mulai meninggalkan pelabuhan Bangsal. Disyukuri tidak berada di atas perahu ketika hujan deras. Bayangkan, sodara-sodara! 🙁
Perjalanan dilanjutkan menuju lereng gunung Rinjani. Bukan, bukan mau naik gunung. Gak mungkin juga mengajak para bapak dan ibu dalam rombongan saya ini untuk naik ke sana (merasa paling muda sendiri :D). Tujuan kami berikutnya adalah Air TErjun Sendang Gile, yang setelah satu jam lebih perjalanan terpaksa kami membatalkan perjalanan ke sana. Sudah sampai di pos pemandunya sih, tapi gagal turun ke sana. Hujan! Bapak dan ibu terhormat dalam rombongan saya ogah susah-susah jalan kaki ke sana. Saya sih cuma menyimpan kecewa dalam hati, dan memendam keinginan suatu hari akan kembali ke sana. Apalagiiiii, beberapa minggu kemudian di tivi muncul liputan perjalanan ke sana. Tuh kan, keren 🙁
Sendang Gile Waterfall (hasil comot di tripadvisor)

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Senggigi, check in ke hotel sekalian makan siang. Tapi rencana tinggal rencana. Hari itu cuaca benar-benar tidak bersahabat. Selama satu jam kami meninggalkan Pelabuhan Bangsal, kawasan tersebut ternyata dilanda angin puting beliung. Pohon bertumbangan, atap-atap berterbangan, baliho roboh, membuat kemacetan parah sepanjang perjalanan ke Senggigi. Untuk menahan lapar, kami akhirnya membeli gorengan di pinggir jalan 🙁

Waktu hampir menunjukkan pukul 8 malam, ketika kami tiba di sebuah rumah makan di kawasan Senggigi. Baju basah, kena AC, dan kelaparan, semoga tidak masuk angin 🙁
Setelah selesai makan, kami menuju hotel tempat kami bermalam di hari kedua, The Jayakarta Lombok Hotel & Spa. Alhamdulillah….

The Jayakarta Lombok Hotel & Spa

Hari ketiga atau hari terakhir di Lombok, saya mulai dengan menikmati debur ombak di pantai yang berada tepat di belakang hotel. Gunung Agung di pulau Bali terlihat menjulang indah. Meskipun bukan destinasi spesifik Lombok, berada di pantai di belakang hotel itu adalah pengalaman paling “liburan” selama tiga hari di Lombok. Karena, suasananya santai dan tidak diburu waktu.

Senggigi
Hari itu kami sesaat mengunjungi Taman Narmada, meskipun tidak sempat masuk ke dalam sebelum melanjutkan berburu oleh-oleh dan kembali ke bandara untuk penerbangan pulang ke Surabaya.
Liburan selesai, dan semoga suatu hari kembali ke Lombok untuk liburan yang lebih santai 😀

By uphiet

An accounting who love books and do traveling to know more about the world than just a page

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *