Wisata Kota Tua Jakarta bersama Pegipegi, Lanjut Medan?

//Wisata Kota Tua Jakarta bersama Pegipegi, Lanjut Medan?

Wisata Kota Tua Jakarta bersama Pegipegi, Lanjut Medan?

Saya selalu jatuh cinta pada suasana kota tua. Bangunannya, atmosfirnya, dan aroma sejarah yang begitu kuat. Kota tua di sebuah kota besar menjadi daya tarik tersendiri buat saya, seperti melintasi mesin waktu  yang membeku dengan segala masa lalunya di tengah hiruk pikuk masa kini. Terlihat lampau tapi terasa kekinian dengan cara yang berbeda. Kota tua di Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang pernah saya datangi. Tapi kata banyak orang, Kota Tua Jakarta tidak bisa dilewatkan begitu saja. Jangan ngaku jatuh cinta pada kota tua, kalau belum pernah ke sini. Hmm…

Mengunjungi Kota Tua Jakarta saat weekend bukanlah pilihan yang bijak buat saya yang tidak terlalu suka keramaian. Weekend menjadi momen warga lokal untuk juga berwisata di kota tua. Tapi saya tidak memiliki banyak pilihan, maka nikmati saja. Saya dan suami memutuskan datang pagi, dengan tujuan bisa eksplorasi lebih lama, mengantisipasi keramaian, dan tentu saja menghindari udara pengap dan terik matahari siang Jakarta.

Kota Tua Jakarta yang dikenal dengan sebutan Oud Batavia berada di wilayah Jakarta Barat. Dari arah Jakarta Pusat, jika kita sudah bertemu dengan Stasiun Jakarta Kota, maka kita tiba di tempat yang tepat.

Kota Tua di pagi hari sudah mulai menampakkan geliatnya, karena memang terbuka 24 jam. Tapi beberapa kafe masih tutup, begitu juga bangunan-bangunan tua yang banyak difungsikan sebagai museum ini. Tujuan pagi ini langsung menuju Taman Fatahillah, dimana menjelang siang akan semakin berjubel pengunjungnya. Karena Taman Fatahillah menjadi salah satu obyek utama untuk berfoto.

Kota Tua bukan hanya tempat untuk ajang foto saja, banyak sejarah tersimpan yang bisa dipelajari. Seperti Kota Jakarta di masa lampau yang bisa dipelajari di Museum Sejarah Jakarta. Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah adalah sebuah balai kota Batavia di masa VOC  yang diresmikan sebagai museum pada tanggal 30 Maret 1974 oleh gubernur kala itu, Ali Sadikin.

Dahulu gedung ini juga berfungsi sebagai Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) dan Dewan Kotapraja (College van Schepen). Di bangunan ini juga terdapat penjara bawah tanah. Tercatat beberapa tokoh nasional pernah ditahan di sini, seperti Untung Suropati dan Cut Nyak Dien, bahkan Pangeran Diponegoro.

Di dalam museum ini kita bisa melihat kisah perjalanan perkembangan Kota Jakarta. Gubernur yang pernah berkuasa, koleksi-koleksi penting seperti prasasti dan lukisan yang menjadi tanda perjalanan Kota Jakarta. Koleksi museum dibagi ke dalam beberapa ruangan, sehingga pengunjung cukup mengikuti arus dan tidak menumpuk pada satu tempat saja.

Jika merasa lapar dan kehausan, di bagian terbuka di dalam gedung terdapat beberapa stan makanan khas Jakarta seperti kerak telor, tahu gejrot, dan es selendang mayang. Ada beberapa bangku-bangku kayu yang bisa digunakan untuk beristirahat dan menikmati makanan.

Jika masih lapar juga, keluar dari museum bisa dipastikan kafe-kafe yang bertebaran di area Kota Tua sudah siap menyambut pengunjung. Salah satu tempat yang paling dekat dengan Museum Fatahillah adalah Kedai Seni Djakarte. Kedai ini tetap mempertahankan bangunan aslinya sejak tahun 1913.

Dulu bangunan ini merupakan kompleks perkantoran Batavia Zee en Brand Assurantie Mij. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, dan lantai satunya terbagi menjadi indoor dan outdoor. Bersantai di sini sambil menikmati kudapan dan keramaian suasana Kota Tua Jakarta bisa membuat lupa diri.

Setelah puas bersantai di kafe, perjalanan menyusuri kota tua bisa dilanjutkan. Museum-museum lain siap menunggu, seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, atau Museum Bahari. Menyusuri pinggiran Sungai Besar yang sekarang sudah direvitalisasi dan tampil cantik seperti sungai di Amsterdam. Juga masih ada Toko Merah yang bangunannya masih berdiri apik.

Satu hal lagi yang identik dengan kota tua di berbagai kota di Indonesia, yaitu keberadaan Pecinan. Begitu juga dengan Kota Tua Jakarta. Kawasan Glodok terkenal sebagai pecinan tertua di Jakarta. Dan salah satu kegiatan favorit saya adalah berburu kuliner di Pecinan.

Bakso Akiaw 99 Medan menjadi tempat favorit saya di kawasan Glodok sejak pertama mencicipi rasa baksonya. Bakso yang mereka sajikan lain dengan yang lain. Bakso disajikan dengan irisan-irisan daging dalam satu mangkok, belum lagi semangkuk penuh bihun atau kwetiaw atau mie kuning sebagai pendampingnya. Rasa bakso ini benar-benar gurih tanpa tambahan saus, kecap, atau sambal.

Baru kali ini saya mendengar bakso Medan, biasanya juga yang terkenal adalah Bakso Malang atau Bakso Solo. Hal ini membuat saya bertambah penasaran dengan citarasa bakso Medan di daerah asalnya, yaitu Medan. Sepertinya menarik untuk dicoba.

Medan sebagai salah satu kota besar di Sumatera tentu juga mempunyai sejarah panjang perkembangan kotanya hingga menjadi seperti sekarang. Tidak dipungkiri akan ada area tertentu yang di masa lalu pernah menjadi pusat kejayaan Medan. Saya tiba-tiba membayangkan menjelajahi kota tua di Medan. Balai Kota, Kantor Pos, gedung-gedung pemerintahan di jaman dulu, atau mungkin singgah di Istana Maimun yang terkenal. Sebelum akhirnya mengakhiri perjalanan hari itu untuk singgah di Pecinan kota Medan.

Berhubung akhir tahun belum ada rencana mau liburan kemana, coba bujuk suami dulu siapa tau mau bayarin liburan ke Medan 😀

Tapi sebelumnya saya harus cek-cek dulu, dengar-dengar banyak promo di Pegipegi, dan salah satunya tiket pesawat Jakarta Medan. Bismillah….

Kali ini ada promo Flash Sale Potongan Langsung Tiket Pesawat s/d 50%, dan setelah lihat-lihat daftar destinasinya, ada dong tujuan Jakarta-Medan. Lebih senang lagi karena periode keberangkatannya bisa kapan saja.

Sebagai pegawai apalagi urusannya terkait dengan keuangan sangat susah untuk ambil libur akhir tahun, apalagi saat-saat Natal dan Tahun Baru, bisa dipastikan harus standby dengan proses tutup tahun di kantor. Maka dari itu saya sebisa mungkin menghindari liburan di tanggal-tanggal seperti itu. Weekend sebelum Natal menjadi pilihan saya dan suami, yaitu tanggal 20-22 Desember 2019.

Cukup mudah memesan tiket melalui aplikasi Pegipegi. Hanya 4 langkah yang diperlukan.

1. Lakukan pencarian tiket pesawat di menu Pesawat.

2. Pilih penerbangan yang memiliki harga yang telah dicoret untuk mendapatkan harga potongan langsung.

3. Isi data diri.

4. Lakukan pembayaran.

Selesai…

Total harga tiket pesawat segitu sudah pulang pergi Jakarta-Medan-Jakarta untuk dua orang.

Enaknya kalau sudah ada potongan langsung, tidak perlu repot-repot lagi memasukkan kode promo. Dan untuk flash sale yang saya dapatkan ini bisa juga digabungkan dengan promo maupun kode kupon lainnya.

Banyak promo yang ditawarkan oleh Pegipegi, terlebih ada harga spesial buat member Pegipegi. Untuk periode yang saya dapatkan kali ini berupa flash sale potongan langsung, bisa jadi akan banyak promo menarik lainnya di periode-periode yang akan datang. Buat liburan akhir tahun kan lumayan pake banget 😀

Jadi, kalian liburan akhir tahun kemana?

By | 2020-01-22T11:43:09+00:00 November 30th, 2019|Categories: Uncategorized|1 Comment

One Comment

  1. […] Baca Selengkapnya […]

Leave A Comment