Ke Jember demi nonton JFC 2019

/, Jawa Timur, Traveling/Ke Jember demi nonton JFC 2019

Ke Jember demi nonton JFC 2019

Awal bulan Juli saya galau merencanakan pingin liburan ke Dieng di awal bulan Agustus, karena ada event Dieng Culture Festival 2019. Yang bikin galau adalah suhu di Dieng pada bulan-bulan ini pada kondisi ekstrim dinginnya. Saya paling tak tahan dingin, apalagi kalau memicu alergi saya. Bisa hidung buntu, bersin-bersin berkepanjangan. Hmmm, pergi gak ya…. Melihat itinerary perjalanan salah satu travel agent saya semakin ragu untuk pergi. Rasanya belum siap juga, apalagi mengingat perjalanan terakhir saya ke tempat berudara dingin, yaitu Gunung Ijen, tidak terlalu nyaman pula. Akhirnya saya pun menutup rencana ke Dieng, mungkin saya siap tahun depan 🙂

Karena sudah terlanjur mood pingin liburan, saya buka-buka lagi calendar of event Kementerian Pariwisata, dan menemukan Jember Fashion Carnaval 2019 di tanggal yang sama dengan Dieng Culture Festival. Cuss lah pergi yang dekat-dekat saja, dan pastinya gak dingin. Hehee…
Sabtu, 3 Agustus 2019

Berangkat Sabtu pagi dengan kereta api Probowangi dari Bangil ke Jember hanya butuh waktu 3 jam perjalanan. Setelah berburu sarapan dan nonton Fast & Furious di TransMart Jember, saya dan suami check in di Hotel Dafam Lotus Jember. Kenapa nonton dulu? Karena kami gak bisa early check in. Check in sebelum jam 2 siang dikenakan biaya 50% dari tarif. Mahalnyaaa…. Ya sudahlah daripada bengong, karena mau masuk cafe atau tempat makan lagi sudah kenyang banget, lebih baik duitnya buat nonton aja:D

Hari Sabtu jadwalnya Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI). Kalau dari jadwalnya dimulai jam 3 sore, maka cukuplah sejam leyeh-leyeh di hotel. Sebenarnya event JFC sudah dimulai sejak tanggal 31 Juli 2019, tapi karena kami pasangan pegawai yang cuma bisa nonton saat weekend 🙁

Sebelum jam 3 saya sempat cek IG story, lah kok sudah mulai acaranya. Kami bergegas menuju jalan yang tidak jauh dari hotel untuk melihat parade dari pinggir jalan. Saya sedikit kaget dengan kenyataan yang tidak seperti ekspektasi saya. Kirain jalanan akan berjubel dengan penonton yang berdesak-desakan di pinggir pagar pembatas, tapi ternyata masih cukup lengang. Membuat saya leluasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengambil gambar peserta defile yang melintas. Ah mungkin nanti lebih sore akan ramai.

Kirain (lagi) akan ada banyak defile dari berbagai wilayah di Indonesia, tapi ternyata hanya beberapa saja, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Jepara, Malang, Nganjuk, Lombok Tengah, dan Solo. Alhasil belum jam 5 sore acara sudah buyar. Saya masih bertanya-tanya apa ini event internasional yang belasan kali sudah diselenggarakan? Saya sih berharap pesertanya jauh lebih banyak dari berbagai wilayah di Indonesia. Karena secara kualitas penampilan, memang ini bukan event main-main.

Saya ketinggalan defile dari DKI Jakarta, begitu sampai di pinggir jalan defile dari Yogyakarta terlihat akan segera melintas. Serunya karnaval ini, para peserta akan dengan senang hati bergaya di depan kamera kita. Cekrek….

Defile berikutnya adalah dari Kabupaten Jepara. Mbak masnya ganteng cantik 😀

Defile Kabupaten Malang muncul dengan cosplaynya yang menurut saya total banget.

Kabupaten Nganjuk…

Sempat bangga juga dengan kemunculan defile dari Lombok Tengah, padahal yang orang Lombok suami saya. Hahaha…. Mereka membawa 150 orang langsung dari pulau Lombok (hasil wawancara suami dengan salah satu kru dari Lombok) untuk ikut berparade meramaikan JFC. Dibanding defile lain, defile Lombok Tengah muncul dengan kedaerahannya, puluhan peserta dengan baju daerah berbaris rapi melintasi jalanan. Ditambah dengan live performance musik gendang beleq di belakang barisannya.

Defile Solo paling memikat penampilannya, agaknya mereka membawa tim yang pernah tampil dalam Solo Batik Carnaval bulan Juli lalu.

Parade ditutup oleh defile Cak dan Ning Jember…

Minggu, 4 Agustus 2019

Setelah check out, kami bergegas mencari makan siang. Awalnya berencana nonton lagi untuk menghabiskan waktu menunggu sebelum acara Grand Carnaval dimulai. Ternyata dalam perjalanan menuju tempat makan siang saya melihat jadwal acara berlangsung mulai pukul 12 siang, yang berarti satu jam lagi. Mendekati tiba di tujuan, dekat dengan Lippo Plaza sudah sedemikian ramainya penonton berdatangan. Wah, sepertinya memang ini yang ditunggu-tunggu. Apalagi dengan iming-iming bintang tamu cantik seperti Cinta Laura.

Seusai makan siang, saya dan suami menikmati keramaian yang tercipta sepanjang jalan yang akan dilalui parade. Berbagai macam pencari rejeki bermunculan, ada yang berjualan makanan ringan, produk non makanan, bahkan penjual alas duduk.

Event tahun ini adalah event kedelapanbelas kalinya, sehingga penonton yang tiap tahunnya tidak pernah melewatkan (khususnya warga lokal) sudah hafal betul dengan situasi dan kondisi yang terjadi selama acara. Sebisa mungkin mereka sudah mengkapling tempat dengan duduk-duduk di pinggiran pagar. Tak lupa dengan bekal pikniknya yang disantap sebelum parade dimulai. Mantap sudah berasa duduk di tribun VIP. Hahaha…

Semakin mendekati alun-alun, semakin rapat jajaran orang-orang yang duduk di sepanjang pagar, bahkan ada yang dibentengi sepeda motor sehingga tidak ada yang bisa menyerobot dari belakang. Ckckck, bagaimana pula nasib kami yang belum dapat tempat ini, bakal cuma lihat parade dari balik punggung dan kepala orang-orang ini. Hahaha….

Parade diawali oleh barisan guard, yaitu orang-orang yang bertugas mengatur keamanan dan ketertiban penonton sepanjang lintasan parade. Dengan membawa poster besar bertuliskan selamat jalan maestro, untuk mengenang kepergian penggagas JFC, yaitu Dynand Fariz, sembari menyanyikan lagu Gugur Bunga. FYI, event JFC 2019 kali ini merupakan event yang pertama setelah Dynand Fariz berpulang pada April tahun ini.

Setelah barisan guard tersebut kita masih harus menunggu lama lagi, saya pun berjalan lagi ke utara, semakin mendekati alun-alun. Karena kereta untuk pulang ke Bangil jam setengah 5 sore, kami memilih posisi terdekat dengan stasiun supaya tidak terburu-buru nantinya ketika waktu keberangkatan sudah dekat.

Di sana sudah tumpah ruah penonton, dan begitu parade pertama melintas, yaitu barisan paskibraka, disusul dengan penampilan drumband, posisi kapling mengkapling tempat pun bubar jalan. Hahaha… Karena ini adalah jalanan umum, penonton pun tidak peduli dengan alas duduk yang sudah dibentangkan oleh penonton lainnya. Bagi mereka ini jalanan umum, karnaval umum yang dinikmati oleh masyarakat umum.

Grand carnaval JFC 2019 mengusung tema Tribal Grandeur dimana suku bangsa-suku bangsa besar menjadi inspirasi karnaval kali ini. Defile pertama menampilkan suku Aztec, dan kita bisa melihat special performance dari seorang Bubah Alfian, salah satu make up artist terkenal yang ternyata adalah orang Jember dan besar dari event JFC awal-awal tahun dulu.

Defile kedua adalah Hudoq atau semacam festival dalam suku Dayak. Kalau menonton langsung di panggung pertunjukannya (tribun berbayar di area alun-alun), akan ada penampilan Cinta Laura dengan kostum Hudoq. Tapi karena saya nontonnya di jalanan, saya tidak bisa melihat Cinta Laura. Hehehe…

Setelah defile kedua melintas, saya dan suami melipir minggir untuk menunaikan sholat ashar, karena nanti akan langsung bergegas ke stasiun. Setelah selesai sholat kami mencoba mencari tempat lain untuk melihat parade. Berada di sebelah kiri tribun media fotografer saya bisa melihat parade dari defile suku Karen melintas. Cuma sayangnya kebanyakan membelakangi, karena posisi mereka yang sedang berpose untuk para fotografer.

Karena sudah terlalu padat, saya akhirnya menyerah dan memasuki area JFC Exhibition untuk melihat-lihat pameran sekaligus membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Setelah masuk ke area tersebut saya baru tahu kalau terdapat pagar pembatas untuk melihat parade di samping panggung pertunjukan. Ya ampun kalau tahu begini enak bisa nonton di sini, sayangnya pada saat saya datang tempat sudah sedemikian padatnya. Hehehe, meskipun lebih enak lagi kalau nonton di tribun. Karena ada beberapa pertunjukan yang tidak ditampilkan di jalanan. Misalnya, peragaan busana rancangan Anne Avantie oleh model-model profesional dan pertunjukan masing-masing defile sebelum berparade di sepanjang jalan.

Karena ingat harus naik kereta setengah jam lagi, saya dengan berat hati meninggalkan lokasi dan melanjutkan menonton JFC dari live instagram akun resmi JFC. Hahaha…. Bahkan oleh-oleh pun lupa terbeli 🙁

Tapi bukan berarti nonton di jalanan gak seru. Selain banyak jajanan di jalan, seru bisa lihat bagaimana antusiasnya masyarakat sekitar maupun pengunjung dari luar kota melihat event internasional ini. Tapi kalau ada kesempatan untuk melihat JFC lagi, sepertinya saya lebih memilih untuk beli tiket nonton di tribun kalau tahu akan banyak show yang tidak bisa dinikmati dari pinggir jalan raya. Eh, tapi tahun depan ke Dieng Culture Festival aja dulu ya 🙂

By | 2019-08-14T07:53:16+00:00 August 10th, 2019|Categories: Jawa, Jawa Timur, Traveling|Tags: , |5 Comments

5 Comments

  1. CREAMENO August 10, 2019 at 6:34 am - Reply

    Seru banget ya mba, hehehe jadi mau lihat langsung event JFC-nya. Desainnya bagus-bagus semua 😀

    • uphiet August 12, 2019 at 2:41 am - Reply

      Iya banget, desainnya gak main-main semua 🙂

  2. Ke Jember demi nonton JFC 2019 August 13, 2019 at 12:13 am - Reply

    […] Baca Selengkapnya […]

  3. Ahalona August 13, 2019 at 2:03 am - Reply

    Seru banget ya mbak pas di gong acaranya.
    Ya ampun padahal ibu ku orang Jember tapi belum pernah sama sekali kami sekeluarga nonton JFC ini. Pernahnya malah Semarang Night Carnival.
    Semoga tahun depan ada kesempatan buat ke jember menyaksikan parade ini aamiinnn

    • uphiet August 14, 2019 at 3:20 am - Reply

      Semoga tahun depan bisa liat langsung JFC ya mbak 🙂

Leave A Comment