Ke Mataram jalur darat, kapok naik Tiara Mas!

/, Jawa, Jawa Timur, Lombok, Traveling/Ke Mataram jalur darat, kapok naik Tiara Mas!

Ke Mataram jalur darat, kapok naik Tiara Mas!

Iming-iming suami untuk pulang ke Mataram dengan jalur darat yang lebih seru dan banyak pengalaman, saya sambut dengan senang hati. Selain harga tiket pesawat yang membuat para istri harus bolak-balik lihat budget pengeluaran yang bisa mencekik leher, hari libur yang lumayan panjang (memanfaatkan Pemilu dan cuti satu hari) membuat saya setuju dengan perjalanan via darat kali ini.

Keinginan mendapatkan banyak pengalaman agaknya benar-benar diamini. Kami mendapatkan banyaaak sekali pengalaman. Pengalaman yang mengajarkan kami untuk lebih bersabar dan ke depannya supaya tidak mengalami kesalahan yang sama. Hehehe….

Bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang kami tumpangi adalah PO Tiara Mas. Jadwal berangkat diperkirakan jam 4 sore dari Surabaya, perkiraan satu jam atau satu setengah jam akan tiba di tempat saya dan suami menunggu.

Sebelum berangkat dari rumah saya sempatkan menghubungi busnya supaya tahu kira-kira jam berapa harus sudah siap di halte. Tapi berkali-kali telpon tidak ada jawaban, akhirnya kami putuskan berangkat menunggu di halte jam setengah 5 sore.

Maghrib menjelang tidak ada tanda-tanda kedatangan bus. Titian Mas, Akas IV, Dunia Mas, dan beberapa bus lintas provinsi satu per satu melintas. Kami pun galau karena belum sholat maghrib. Hiks…

Setelah isya’ barulah muncul bus Tiara Mas ini. Sedikit di luar harapan, penampakan bus ini tidak semegah bus-bus lintas provinsi sebelumnya, malah mirip bus AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi). Apa mau dikata, tiket sudah dibayar lunas di depan, dan bus AKAP lainnya sudah melintas. Kami terpaksa menerima kenyataan, yang kami tidak tahu ini hanyalah awal dari beberapa peristiwa tidak mengenakkan menggunakan bus ini.

Memasuki dalam bus, kami dibuat bingung karena nomor tempat duduk kami sudah ditempati orang lain. Disuruh menempati tempat duduk yang lebih ke belakang, tapi ternyata hanya satu nomor yang kosong, tentu saja saya tidak mau. Akhirnya dikembalikan lagi ke tempat duduk awal kami (orang yang menempati disuruh pindah). Dalam hati sudah menggerutu, kenapa kru busnya tidak profesional sekali.

Ternyata pindah memindah tempat duduk itu memang suka-suka krunya, tergantung kita mau pindah atau tetap ngotot di tempat duduk. Seperti yang dialami seorang penumpang yang harus rela pindah karena di Pelabuhan Ketapang ada ibu dan anak yang menaiki bus dan meminta duduk berjejer (padahal tidak ada kursi kosong yang berjejer saat itu). Sebenarnya tidak masalah pindah tempat duduk kalau saja tempat itu tidak basah kuyup karena air AC yang bocor. Protesnya pun tidak didengar dan penumpang itu hanya pasrah sepanjang perjalanan harus merasakan tetesan air AC sepanjang jalan 🙁

Tapi penumpang itu tidak sendirian, beberapa penumpang yang berada dalam satu deret di bawah aliran AC harus merasakan nasib yang sama meskipun tidak separah penumpang tersebut. Salah satu penumpang yang bernasib sama adalah suami saya. Tetesan itu akan semakin terasa ketika bus bergoyang ke kanan dan ke kiri karena menyalip kendaraan lain atau melewati tikungan. Untung saja masih ada jaket yang menjadi pelindung sementara. Ketika turun dari bus dan menumpangi kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, saya harus mengangin-anginkan jaket yang ternyata telah basah kuyup itu. Kontras dengan pemandangan pelabuhan Gilimanuk yang cantik di tengah malam.

Terbayang masih ada perjalanan Gilimanuk-Karangasem yang harus dilalui dengan tetesan air AC. Kalau saja kami berdua tidak membawa barang banyak (titipan oleh-oleh keluarga), ingin rasanya turun di Bali saja dan menghabiskan libur panjang di sana. Tapi kami diharuskan tetap bersabar meneruskan perjalanan 🙂

Memasuki terminal Denpasar, hari sudah pagi. Dan kesabaran kembali diuji, selama 1 jam bus tidak kunjung berangkat, padahal perkiraan kami pagi hari sudah bersiap menyeberang Padangbai-Lembar. Tapi ternyata malah menunggu ketidakjelasan di terminal dan tentu saja masih dengan tetesan air AC 🙁

Perjalanan Denpasar-Padangbai lambat sekali. Tidak seperti Surabaya-Banyuwangi yang melaju kencang bahkan sedikit ugal-ugalan, perjalanan kali ini malah terkesan ogah-ogahan. Perjalanan yang seharusnya 1 jam saja menjadi 2,5 jam, termasuk berhenti untuk sarapan (siang).

Sampai di Padangbai sepertinya sudah terlalu siang, bus kami menumpangi kapal muatan bersama truk-truk besar, bukan kapal besar untuk penumpang yang biasanya. Karena bukan kapal penumpang, kamar-kamar yang ditawarkan untuk menumpang tidur adalah kamar kru kapal. Perjalanan berjam-jam penuh drama membuat badan kami lelah, mau tidak mau kami menyewa salah satu kamar tersebut. Harga per kamar adalah seratus ribu rupiah. Lumayan untuk beristirahat selama 4 jam perjalanan dari Padangbai ke Pelabuhan Lembar.

Ini adalah pengalaman pertama saya menumpang kapal ferry selama lebih dari satu jam. Begitu dibilang perjalanan selama 4 jam ada perasaan sedikit takut tapi juga penasaran. Kira-kira saya panik gak ya, gak menginjak daratan selama itu. Memasuki kamar yang sempit dengan tempat tidur bersusun saya malah lebih panik, lebih lega kalau duduk-duduk di luar.

Pemandangan selama penyeberangan Padangbai-Lembar cukup mengurangi rasa lelah perjalanan kami. Melihat pulau Nusa Penida di sebelah kanan dan juga semilir angin laut. Menjelang sampai di Pelabuhan Lembar, pemandangan pulau-pulau kecil di sekitar Sekotong membuat lelah hilang dan tidak sabar jalan-jalan di Lombok 😀

Karena sudah siang tidak ada penampakan lumba-lumba di jalur Padangbai-Lembar. Konon katanya lumba-lumba itu muncul di pagi hari, dan jadi pemandangan seru penumpang kapal. Berarti belum rejeki, mungkin lain kali harus coba lagi tapi pastinya dengan armada yang berbeda. Cukup sekian dengan PO Tiara Mas 🙂

Kesabaran kami berakhir di atas kapal Padangbai-Lembar. Hehehe… Kami memutuskan minta dijemput keluarga di Pelabuhan Lembar. Sudah tak tahan lagi kami dengan mandi air AC di bus, waktunya mandi di rumah saja. Hehehe….

Kapok ke Mataram via darat? Sama sekali enggak, tapi pastinya tidak dengan Tiara Mas. Hehehe….

Mungkin saja tidak semua armada Tiara Mas sebobrok yang kami tumpangi, mungkin saja memang sudah nasib kami mendapat bus sejelek itu. Ibaratnya karena nila setitik rusak susu sebelanga, seperti itulah persepsi saya dengan PO Tiara Mas. Tidak akan saya ulangi lagi menggunakan armada yang sama karena sudah terlanjur kecewa. Saya sedih membayangkan perjalanan penumpang bus lain yang masih jauh dari tujuan di Sumbawa atau jauh di Bima sana. Masih mandi air AC dan pelayanan kru yang tidak simpatik itu sampai dengan esok hari lagi tiba di tujuan?

Have a good journey!

@uphiet_kamilah

By | 2019-04-27T01:48:26+00:00 April 27th, 2019|Categories: Bali, Jawa, Jawa Timur, Lombok, Traveling|Tags: , , , |4 Comments

4 Comments

  1. Tuteh April 28, 2019 at 9:50 am - Reply

    Yang penting menikmati perjalanan darat (via feri) ini kan ya, Kak Uphiet hehehe. Aduh du du du pemandangan pulau-pulau dan laut biru itu bikin kangen masa-masa dulu waktu sering banget bolak-balik Ende-Surabaya dengan KM Kirana II milik P.T. Dharma Lautan Utama. Tidak pakai bis-bisan sih waktu itu.

    • uphiet April 29, 2019 at 9:44 am - Reply

      Lain kali mau coba naik kapal Legundi dari Surabaya-Lombok 😁

  2. $cocoper6 May 5, 2019 at 8:58 am - Reply

    Uih, kan ada banyak PO, kenapa alasan memilih Tiara itu? Harganya kah yang murah?
    Nampaknya benar-benar menyebalkan pergi perjalanan dengan jarak jauh dengan PO sampah seperti itu. Ingin rasanya melemparkannya ke laut saja itu bus, buat jadi sarang ikan-ikan di laut nan biru.

    Catat dengan tinta hitam, bagaimana pelayanan PO bus itu, supaya banyak orang tahu dan tidak mengalami nasib nahas seperti mba dan keluarga …

    • uphiet May 9, 2019 at 2:46 am - Reply

      Kalau harga relatif sama. Pertimbangannya karena mereka berangkat lebih awal (dengan harapan tiba di Mataram tidak terlalu siang) dan kantor pusatnya berjarak dekat dengan rumah kami di Mataram. Nyatanya ternyata tidak sesuai harapan 🙁

Leave A Comment