Menempuh Perjalanan 10 jam Makassar-Tana Toraja, Singgah di Kota Cinta Habibie-Ainun dan Menghitung Baling-Baling di PLTB Sidrap

Sebelum memulai perjalanan Makassar-Tana Toraja, saya dan suami tiba di Makassar sehari sebelumnya menumpangi Kapal DLU Kencana VII lengkap dengan membawa sepeda motor matic kesayangan kami.  Setelah pernah dibawa lintas Labuan Bajo-Lombok, kali ini si motor kesayangan kami ajak keliling Sulawesi Selatan. Bismillah gak rewel di jalan ya, pinter seperti biasanya 🙂

Kami menginap di Empress Hotel, hanya 6 menit kalau kepingin mencicipi Konro Karebosi yang terkenal. Sayangnya, makanan khas Makassar ini tidak terlalu cocok dengan lidah Jawa saya. Malam sebelum perjalanan panjang keesokan hari, saya dan suami menghabiskan malam dengan menikmati suasana Pantai Losari sambil mencicip pisang epe’ di Pisang Epe’ Mandiri yang ramainya luar biasa karena sudah memasuki weekend.

Makassar, 05.00 WITA

Tepat setelah sholat subuh, jalanan masih gelap kami sudah memulai aktivitas kami. Check out hotel dan langsung melajukan motor menuju arah luar kota. Jalanan sepi, hampir tidak terlihat aktivitas pagi, bahkan saat langit sudah cukup terang, jalanan masih tampak sepi-sepi saja. Sempat terheran-heran, karena biasanya kalau di Jawa jalanan sudah cukup ramai di jam-jam subuh seperti ini. Bahkan aktivitas pasar pun tidak terlihat. Bisa jadi beda tempat, beda budaya karena sepanjang jalan sampai ke Parepare pun kami tidak menemukan keramaian pasar.

Kami singgah di salah satu warung dange yang banyak berjajar di sepanjang jalan di Kabupaten Pangkep yang berjarak lebih dari 50km dari Kota Makassar. Perut sudah mulai berteriak minta sarapan 🙂 Kue dange terbuat dari tepung ketan hitam, gula merah, dan parutan kelapa. Sarapan kue dange yang masih panas dan segelas teh tawar hangat cukup memberikan energi perjalanan pagi kami. Sengaja tidak terlalu kenyang biar gak mengantuk di jalan.

Melintasi Maros-Pangkep, mata dimanjakan pemandangan karst  jauh di sebelah kanan jalan. Dalam hati berjanji, ntar yaaa mampir kalau sudah kembali ke Makassar 🙂

Parepare

Sepanjang jalan sebelum memasuki Parepare kami melintasi beberapa acara gerak jalan Agustusan, jadi laju kendaraan sedikit tersendat karena kemacetan lokal.

Memasuki Parepare kami disambut tulisan besar Kota Cinta Habibie-Ainun di kawasan Tonrangeng Riverside dan gedung rumah sakit dr. Hasri Ainun Habibie di kejauhan. Kota kecil ini begitu cantik sampai lupa mengabadikan dalam kamera. Kami menuju pemberhentian pertama, Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun, yang terletak di pusat kota.

Sidrap

Dari Pare-Pare kami berencana langsung melajukan kendaraan menuju Tana Toraja. Ternyata suami ingin mampir dulu ke PLTB Sidrap yang berjarak kurang lebih 15 km atau setengah jam perjalanan menggunakan motor. Karena searah saya pun mengiyakan.

PLTB ini tidak ada dalam itinerary saya sebelumnya, hanya keinginan dadakan suami saya, jadi saya tidak terlalu mencari tahu informasi tempat ini. Waktu sampai di pintu masuknya, terlihat banyak kincir angin raksasa di kejauhan, ada sekitar 20-30 kincir angin. Saya kira kami  hanya mampir di pintu masuknya saja, hehehe kalau ke kincir anginnya kok terlihat sangat jauh dan belum tentu bisa dimasuki masyarakat umum kan. Tapi lain saya lain suami, dia maunya sampai ke tempat terdekat dengan kincir anginnya. Baiklaahhh, sambil sesekali cek jam tangan karena jarak Tana Toraja yang masih sangat jauh.

Jalanan menuju PLTB tidaklah mulus, masih bebatuan dan pasir jadi tidak bisa terlalu ngebut belum lagi panas dan penuh debu. Sampai di dekat pintu masuknya kami memarkir motor dan mulai mengabadikan pemandangan jajaran kincir angin raksasa. Meskipun panas tapi angin yang berhembus lumayan kencang, namanya juga PLTB alias Pembangkit Listrik Tenaga Bayu 😀

Enrekang

Jalanan menuju Tana Toraja berkelok-kelok karena berada di area pegunungan di antaranya Gunung Latimojong dan Gunung Nona alias Bambapuang. Perjalanan masih 120 km lagi, kami tidak banyak mampir kecuali untuk sholat dhuhur di Masjid Agung Enrekang dan makan siang di sekitaran puncak Enrekang sembari menikmati keindahan alam Gunung Nona di kejauhan. Eh, btw nasi goreng di sini enak banget. Ntar kalau ada kesempatan ke Tana Toraja mau mampir lagi. Hehehe…

Tana Toraja

Tiba di perbatasan Enrekang-Tana Toraja, kami langsung disambut gapura berbentuk tongkonan dan tulisan Selamat Datang di Tana Toraja. Rasanya tuu…….. langsung teriak ke suami, “minggir..minggir..parkir…parkir…” Ayo kita foto….. 😀

Selain lanskapnya yang indah, Tana Toraja memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang kuat dan melekat pada setiap kehidupan warganya. Tempat ini cantik, saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Setiap jangkauan mata, ucapan kagum tidak segan-segan saya lontarkan. Meskipun sebagian besar tempat wisata di sini adalah pekuburan, tapi bukan aura mencekam dan mistis yang muncul namun kesan sakralnya yang kuat.

Tujuan pertama kami setiba di Tana Toraja adalah Patung Yesus Kristus di Buntu Burake. Hawa dingin menyergap ketika memasuki Tana Toraja, terlebih di ketinggian Buntu Burake yang lebih tinggi tempatnya dari ibukota Tana Toraja, Makale.

Awalnya saya kira, wisata Patung Tuhan Yesus Memberkati ini adalah tempat wisata religi, ternyata bukan. Siapapun bisa ke sini dan menikmati pemandangan Tana Toraja dari ketinggian. Patung ini diklaim sebagai Patung Yesus tertinggi di dunia, mengalahkan patung yang sama di Brazil jika dihitung dari permukaan laut.

Cukup lama kami di sini, berusaha mengambil angle foto yang pas dengan background patung yang menjulang tinggi yang ternyata lumayan tricky. Kami sempat dibantu penjaja makanan kecil yang berada di area tersebut. Galau antara pakai mode panorama atau wide lens. Kalo pake mode panorama, kami yang besar terlihat semakin besar. Hahaha, mending menyelamatkan diri pake mode wide lens.

Toraja Utara

Setelah puas berlama-lama di Buntu Burake, kami bergegas menuju penginapan di Rantepao, Toraja Utara. Hari sudah beranjak gelap dan mendung-mendung syahdu pula. Dan kami belum menentukan akan menginap di mana. Saya yang biasanya well-prepared untuk urusan akomodasi, kali ini memang ditantang suami untuk mencari penginapan on the spot, tentunya dengan beberapa referensi yang sebelumnya sudah kami cari informasinya sebelum memulai perjalanan.

Cukup sulit menemukan penginapan budget yang sesuai dengan preferensi kami, akhirnya tetap pakai aplikasi dan tarifnya melebihi anggaran yang kami alokasikan 😀 Yaaa, daripada dapat murah tapi alakadarnya, lebih baik yang sepadan antara tarif dan fasilitas penginapan yang disediakan. Kami memutuskan menginap di Indra Toraja Hotel, tepat di pusat kota yang memudahkan kami untuk berjalan-jalan menikmati malam hari Toraja serta mencari rumah makan halal untuk makan malam kami. Karena Toraja penduduknya mayoritas memeluk agama Kristen, banyak rumah makan non halal tersebar, dan kami jangan sampai salah masuk yaa, karena dekat penginapan ada warung bakso yang lumayan ramai dan membuat kami tergoda untuk masuk kalau saja kami tidak membaca judulnya, yaitu “bakso babi” 🙂

Indra Toraja Hotel salah satu hotel terbaik sih selama pencarian penginapan di sini. Secara harga tergolong murah tapi fasilitas penginapannya bersih dan nyaman. Belum lagi termasuk sarapan, sehingga tidak mengharuskan kami mencari-cari lagi rumah makan halal di sekitar penginapan.

Have a good journey,

Leave a Reply

Your email address will not be published.