Menemukan Hidden Places ‘Cantik’ di Jogja

/, Kuliner, Traveling, Yogyakarta/Menemukan Hidden Places ‘Cantik’ di Jogja

Menemukan Hidden Places ‘Cantik’ di Jogja

Tak pernah ada kata bosan untuk kembali ke Jogja. Ada saja yang selalu membuat rindu. Suasananya, kulinernya, tempat wisatanya atau Malioboro yang ramai tapi selalu dikangenin. Dan selalu saja ada hal baru yang bisa ditemukan di setiap kunjungan yang berbeda ke kota Yogyakarta.

Tiga tempat baru yang saya temukan saat kunjungan ke Jogja kemarin saya sebut hidden place karena memang tempatnya yang nyempil dan jauh dari keramaian kota Yogyakarta. Apa saja?

1. Situs Warungboto

Tidak seperti Taman Sari yang berada di dalam lingkungan sekitaran Keraton Ngayogyakarta, Situs Warungboto berada di pinggir jalan dan untuk masuk ke dalamnya pengunjung harus memasuki gang perkampungan. Dan tidak dikenakan tarif tiket kecuali parkir motor/mobil pas di depan gang.

Pertama kali tahu tempat ini dari social media, ketika sebuah akun tourism merepost unggahan seorang public figure yang sedang berfoto di situs ini. Agaknya karena unggahan itu pula, situs Warungboto sekarang ini sedang naik daun dan menjadi incaran pemburu foto instagramable.

Situs Warungboto ini dahulu adalah bagian dari Pesanggrahan Rejawinangun, di antaranya adalah kolam pemandian. Bisa dilihat ketika memasuki bangunan utama terdapat cekungan bekas kolam pemandian yang sekarang sudah dipugar kembali oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta.

Selain kolam pemandian, masih terlihat bangunan sayap sisi selatan, dan bangunan bertingkat sisi selatan dan juga pagarnya. Situs Warungboto ini hanya sebagian kecil dari Pesanggrahan Rejawinangun yang masih tersisa, mungkin saja masih ada sisa-sisa bangunan yang bisa jadi berada di antara atau di bawah rumah-rumah penduduk karena situs Warungboto ini dikelilingi oleh rumah-rumah warga.

Saking instagramablenya tempat ini, saya mengalami hal yang sedikit mengusik pikiran saya. Karena datang saat liburan panjang, pengunjung situs Warungboto juga meningkat termasuk pengunjung yang rata-rata masih anak muda. Niat hati ingin mengambil foto kolam saat sepi, saya menunggu segerombolan anak muda yang sedang asyik berswafoto di spot foto favorit, yaitu di tengah kolam. Semenit lima menit berlalu mereka masih asyik sendiri, sementara pengunjung yang lain juga mulai antri untuk berfoto di spot mereka. Beberapa menit berlalu, beberapa pengunjung mulai gak sabar dan berfoto di belakang mereka, tak peduli posisi mereka mengganggu background gerombolan anak muda yang tadi. Beberapa menit berlalu lagi gantian saya yang gak sabar dan akhirnya pergi. Hahaha….

Hmmm, harus banget ya foto di spot yang sama berkali-kali sampai mengabaikan orang lain yang ingin berfoto di tempat yang sama? Tidak adakah toleransi untuk memberi waktu bagi yang lain? Stok foto yang banyak di tempat yang sama emang mau dipamerin semua? Toh akhirnya akan memenuhi memory ponsel atau kamera 😀 Kalau memang tidak bisa bertoleransi ada baiknya dipatok tarif seperti di tempat-tempat swafoto yang sekarang sedang banyak dimana-mana. Hehehe…. Mari belajar bertoleransi di tempat wisata 🙂

2. Pabrik Chocolate Monggo

Cokelat Monggo menjadi hal yang tidak terpisahkan dari setiap kunjungan saya ke Yogyakarta. Sebagai penggemar dark chocolate, brand ini menyajikan banyak pilihan olahan dark chocolate selain tentu saja cokelat dengan persentase dark chocolate yang lebih sedikit, seperti milk chocolate atau white chocolate yang tidak sepahit pilihan saya sebelumnya.

Kalau sebelumnya saya selalu membeli di gerai Chocolate Monggo di kawasan Tirtodipuran, kali ini saya ingin membeli di tempat yang berbeda, yaitu langsung di pabriknya.

Memasuki kawasan Kota Gede, berbelok di pasar Kota Gede, kita akan melewati Masjid Agung Kota Gede hingga akhirnya berbelok di sebuah jalan kecil menuju Pabrik Cokelat Monggo. Tempat ini berada di sekitaran rumah penduduk, dan ternyata dekat dengan Makam Raja-raja Mataram Kotagede.

Saat saya datang, suasana sedang sepi. Hanya ada saya dan suami saja. Apa mungkin tutup? Karena selain membeli oleh-oleh saya juga tertarik ingin melihat proses pembuatan cokelat secara langsung di pabriknya. Kami putuskan masuk ke showroomnya, kalau tak jadi lihat prosesnya toh tetep bisa beli cokelatnya. Hehe…

Sudah ngiler lihat cokelatnya? 😀

Setelah bertanya-tanya ternyata pabrik tutup di hari Minggu dan tanggal merah. Yaaaa, sedih deh 🙁

Pegawai showroomnya menyarankan kami untuk mengunjungi Museum Chocolate Monggo yang berada di Bantul. Sebenarnya sangat tertarik apalagi saat itu kami juga hendak menuju Bantul. Tapi ternyata setelah memasukkan tujuan di alat navigasi, Museum Chocolate Monggo berada di arah yang berlawanan dengan tujuan kami hari itu. Jadilah Museum Chocolate Monggo menjadi wishlist selanjutnya kalau berkesempatan ke Jogja lagi. Hehe…

Dibanding dengan gerainya di Tirtodipuran saya lebih menyukai gerai yang di Kota Gede ini karena suasananya yang lebih nyaman dan jauh dari keramaian.

Di pabrik ini juga dipajang replika vespa merah muda yang sarat sejarah dari pendiri Chocolate Monggo itu sendiri. Konon katanya vespa merah muda inilah yang dipakai Thierry Detournay untuk menjajakan chocolate premium Belgia racikannya yang dibuat dari kakao asli Indonesia. Jadi meskipun Chocolate Monggo disebut sebagai cokelat Belgia, cokelat ini adalah murni dari kakao Indonesia yang diolah oleh chocolatier asal Belgia yaitu Thierry Detournay itu sendiri.

Ada lowongan jadi accounting di sini gak ya? Seru juga bisa berburu dark chocolate setiap saat setiap waktu. Hehehe…

3. Amettati Cafe and Resto

Niat hati ingin makan romantis berdua di Abhayagiri Restaurant harus pupus saat kami tiba di lokasi. Fullbooked! Ternyata harus reservasi dulu sebelum ujug-ujug ke sini, hiks saya tidak kepikiran dan malah males browsing sebelumnya. Dari Keraton Ratu Boko masih harus bersepeda jauh, memutari bukit, melewati jalan kecil, dan ternyata gagal makan di tempat kece itu. Mana laperrr…..

Kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Candi Ijo sembari mencoba mencari makan di sekitar jalanan yang kita lewati. Dan kami tidak menemukan satu pun tempat yang cocok. Sudah lapar begini kami pun tetap ngotot cari tempat makan yang enak. Hehehe…

Ketika sampai di Candi Ijo dan mendapati tempat itu ramai, mood semakin drop. Suami pun memutuskan tidak mau masuk ke Candi Ijo dan kalau saya mau harus masuk sendiri sementara dia nunggu di parkiran. Kan males 🙁

Meneruskan perjalanan melewati Candi Ijo kami sudah putus asa dan memutuskan putar balik dan mencari makan di kota Jogja saja. Nah, saat berputar arah itu lah kami menyadari sebuah tempat makan di kanan jalan, sejajar dengan Candi Ijo. Sepertinya tempat makan mahal karena terkesan private dan sepi. Ah masuk aja, daripada pingsan kelaperan.

Tempat itu bernama Amettati Cafe dan Resto, yang ketika memasuki gerbangnya saya langsung ternganga kagum. Tempatnya kereeeen… lebih tepatnya viewnya keren banget.

Untuk menu makanan, restoran menawarkan menu prasmanan dengan masakan tradisional seperti urap-urap, tempe bacem, dan lain-lain. Dan ini lupa difoto saking laparnya 😀

Sedangkan kafenya menawarkan menu yang lebih modern seperti pasta dan minuman-minuman kekinian. Seingat saya, saya memesan chocolate with orange flavour dan campuran buah naga dan soda (lupa namanya apa). Yang saya ingat pegawainya asyik diajak ngobrol. Hehehe…

Meskipun batal makan di Abhayagiri Restaurant, ternyata masih diijinkan makan romantis berdua dengan view yang Masya Allah indahnya. Kalau saja tidak mendung, pemandangan Gunung Merapi pun biasanya jelas terlihat. Untuk yang suka foto-foto, di tempat ini juga disediakan spot swafoto dengan view kece sebagai backgroundnya. Dan yang ini gak perlu antri lama-lama, eksklusif untuk pengunjung restoran. Hehehe….

Hidden places mana lagi ya yang tersembunyi di balik Jogja yang selalu dirindu?

Have a good journey
@uphiet_kamilah

By | 2019-01-29T00:54:58+00:00 February 2nd, 2019|Categories: Jawa, Kuliner, Traveling, Yogyakarta|Tags: , , |19 Comments

19 Comments

  1. Etik February 3, 2019 at 1:27 am - Reply

    Asikkk… Makan romantis ???

  2. Andita February 4, 2019 at 5:37 am - Reply

    Amettati bagus ya mbak 😀 baru tau malahan kalau di sekitar sana da cafe romantis lainnya

    • uphiet February 4, 2019 at 6:14 am - Reply

      Bagus mbak, dan memang belum banyak yang tau karena letaknya setelah candi Ijo. Biasanya wisatawan paling jauh sampai di Candi Ijo aja

  3. VINDRI February 4, 2019 at 3:40 pm - Reply

    Pintu melengkungnya sekilas mirip pintu di Taman Sari yah.. ?
    Baiklah, ini masuk ke itin saya klo lagi main ke Jogja hahah..

    • uphiet February 5, 2019 at 1:36 am - Reply

      Iya memang mirip taman sari, tapi ini belum sepenuhnya dipugar

  4. Ardilah Dwiagus Safitri February 4, 2019 at 8:39 pm - Reply

    Kalau ngomongin wisata Yogya memang nggak ada habisnya ya, mbak. Thanks for sharing, mbak. Tak catet dulu, barangkali besok-besok punya kesempatan buat liburan kesana. Hihi..

    • uphiet February 5, 2019 at 1:37 am - Reply

      Betul, banyak banget tempat baru di sana. Semoga kesampaian ke Jogja ?

  5. Tuteh February 6, 2019 at 9:10 am - Reply

    Dari semua yang diulas di atas, suka sekali sama Pabrik Coklat Monggo hehehe, pernah dibawa sama temen dari Jogja soalnya. Manapula lokasinya bikin mupeng … banyak spot instagramable pulak!

    • uphiet February 8, 2019 at 2:28 am - Reply

      Iya mbak, enak itu coklat monggo. Hehehe…

  6. Dwi February 7, 2019 at 3:37 am - Reply

    wah kalau ke Jogja maunya ke gunung kidul mulu nih bawaannya jadi ga pernah kesana. ahh pengen ke Jogja lagi rasanya!

    • uphiet February 8, 2019 at 2:29 am - Reply

      Jogja memang selalu dirindu 🙂

  7. $cocoper6 February 7, 2019 at 11:05 pm - Reply

    Makin banyak ittenarary kalau ke Jogja #istimewa memang

    • uphiet February 8, 2019 at 2:29 am - Reply

      Yup, selalu ada yang baru di Jogja

  8. Dyah February 8, 2019 at 1:08 pm - Reply

    Cita-cita saya tuh, Kak, mampir ke pabrik cokelat Monggo. Tapi harus hari kerja ya. Berarti harus cuti. Saya penggemar cokelat Monggo, soalnya variasi rasanya banyak banget. Bikin nggak bosen.

    • uphiet February 10, 2019 at 3:50 pm - Reply

      Iya Kak, ternyata kalau mau liat proses produksinya harus saat jam kerja

  9. […] Baca Selengkapnya […]

  10. Zakia Wishbeukhti (@zakia_id) November 21, 2019 at 1:44 am - Reply

    Apa cuma saya aja ya yang salah baca, hidden places kebacanya hidden palace
    Mungkin karena saya suka yang berbau-bau kerajaan, jadinya salah baca xixixi
    Tapi memang cantik-cantik ya destinasinya, jogja memang ngangeniiinn!
    Liburan seminggu buat keliling-keliling jogja mungkin baru pas ya biar puas jalan-jalannya 😀

    • uphiet November 21, 2019 at 2:20 am - Reply

      Gak pernah bosan kalau ke Jogja, selalu ada aja yang baru. Seminggu pun mungkin belum kelar 😀

Leave A Comment