Mengelola Keuangan Keluarga (untuk Pemula)

//Mengelola Keuangan Keluarga (untuk Pemula)

Mengelola Keuangan Keluarga (untuk Pemula)

Nah..nah..nah..lama gak muncul tiba-tiba ngomong masalah keuangan. Hehehe…

Karena selama pandemi pergerakan keluar rumah dibatasi, ngomong soal traveling jadi gak mood. Ya kan?

Hampir empat bulan di rumah, aktivitas keluar rumah hanya saat kerja atau saat beli kebutuhan, sisanya ya di rumah. Akhirnya banyak hobi baru yang mulai terbentuk, seperti bikin kue dan berkebun di rumah. Selama hampir empat bulan juga, suami jadi gak bisa pergi-pergi ke luar pulau juga. Hikmahnya, jadi gak LDMan. Alhamdulillah merasakan jadi fulltime wife 🙂

Akhirnya juga, kepingin nulis tema lain di blog ini 🙂

source: pinterest

Mengatur keuangan keluarga memang gak butuh kuliah keuangan selama empat tahun, hanya butuh belajar dan konsistensi. Ehem, komitmen pastinya. Kalau masih single bisa lah diatur-atur sendiri, dengan mood yang mudah on and off. Kadang keuangannya diatur, tapi lebih sering sak karepe dewe, alias suka-suka. Nah itu lah saya ketika masih single 😀

Setelah menikah, mengatur keuangan keluarga juga masih suka on and off. Gimana dong?

Sebagai istri bergelar sarjana bidang perakuntansian, suka malu sendiri kalau ditanya suami posisi keuangan keluarga saat ini bagaimana. Lah, suka keseringan lupa nyatet atau bikin anggaran. Huhuhu… Padahal kerjaannya menyusun laporan keuangan daerah, lah kok laporan keuangan keluarga entah kapan jadinya. Duh…

Bukan berarti tanpa usaha pula, karena memang sudah menjadi bidang yang saya dalami membuat laporan keuangan keluarga seharusnya jadi hal yang piece of cake. Namun, mungkin saya memandang remeh hal semacam ini, jadi konsistensi dan komitmen yang saya punya sering kececeran di jalan.

Berbagai metode pernah saya gunakan, dari yang manual menulis di buku atau di notes ponsel, menggunakan excel, atau aplikasi-aplikasi yang sudah banyak tersedia di ponsel. Saya akhirnya pakai yang mana? Nanti kita bahas lain kali ya…

Memasuki tahun ketiga pernikahan, saya memantapkan kembali kekonsistenan saya mengelola keuangan keluarga, sekalian sharing di blog biar komitmen saya lebih terjaga 🙂

Kesepakatan saya dan suami, keuangan keluarga sepenuhnya saya kelola. Alasan suami biar dia gak pusing karena gak bisa ngatur juga, daripada habis buat nraktir teman dan istrinya gak kebagian. Hehehe… Selain itu, biar tidak ada dusta di antara kita. Eaaa….

Menyusun keuangan keluarga pada awalnya tidak harus jadi lengkap dan sempurna ya, bisa dimulai dengan latihan tiga bulan awal pencatatan. Tidak perlu panik ada yang kelupaan atau terlewat, nanti juga terbiasa dengan berjalannya waktu.

Langkah-langkah yang saya terapkan di awal pengelolaan keuangan keluarga:

1.  Mengkalkulasi pendapatan

Kalau ini mudah saja dilakukan, terlebih kalau pendapatan yang masuk adalah gaji, yang bersifat pasti ada dan jumlahnya sudah bisa diprediksi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui besar sumber dana yang akan digunakan untuk kelangsungan keuangan keluarga selama jangka waktu tertentu.

2. Mengkalkulasi pengeluaran

Sebelum melakukan langkah penyusunan skala prioritas dan pembagian alokasi dana, lebih baik mempelajari habit pengeluaran keuangan keluarga. Usahakan konsisten untuk mencatat setiap pengeluaran yang terjadi selama satu bulan, sehingga bisa diketahui total pengeluaran selama sebulan. Lakukan tiga bulan berturut-turut untuk mengetahui pos-pos mana saja yang memerlukan pengeluaran rutin setiap bulan.

3. Menyusun skala prioritas

Setelah mengetahui habit pengeluaran tiap bulannya, next step adalah menyusun skala prioritas. Dimulai dari yang primer seperti tagihan (listrik, air, telepon, internet, BPJS), sewa rumah, makanan, transportasi, sampai  yang sekunder seperti rekreasi dan hiburan.

4. Membagi alokasi dana

Langkah ini bisa didiskusikan terlebih dahulu dengan pasangan, mana yang menjadi skala prioritas atau goals yang ingin dicapai. Ada beberapa pakar yang menyarankan metode 70:10:5:15, yaitu 70% untuk pengeluaran, 10% tabungan, 5% asuransi, dan 15% untuk investasi. Ada pula yang menyajikan lebih spesifik 10:15:30:30:10:5, yaitu 10% untuk sosial (sedekah, arisan, dll), 15% dana darurat dan investasi, 30% untuk cicilan, 30% untuk biaya hidup (kebutuhan primer), 10% tabungan, dan gaya hidup sebesar 5%.

Pakai metode yang mana pun fleksibel tergantung pendapatan dan pengeluaran tiap keluarga, tapi sangat disarankan mengalokasikan 10-30% pendapatan untuk ditabung dan dana darurat. Lakukan pengalokasian di depan, ketika pendapatan diperoleh sisihkan terlebih dahulu, sehingga tidak sembarangan melakukan pengeluaran yang tidak perlu. Lebih baik sedia payung sebelum hujan, kan. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Misalnya saja Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi dan belum tahu akan berakhir kapan.

***

source: pinterest

Dengan mengetahui pendapatan dan pengeluaran setiap bulan, kita bisa menganalisa kembali habit keuangan keluarga, mana yang gak perlu bisa dihilangkan, yang gak butuh-butuh banget bisa dikurangi. Intinya sih, mencatat pengeluaran setiap bulan membuat kita berpikir ulang untuk menjadi terlalu boros. Baiknya, kalau pengeluaran sudah tercatat, kita bisa mereview kembali perilaku keuangan keluarga, dan mencari solusi ketika timbul masalah.

Setelah mempunyai gambaran besar kondisi keuangan keluarga, mencatat tiap keluar masuknya uang dengan konsisten, insya Allah hidup aman dan tentram tanpa cemas kantong kosong di akhir bulan.

Oh ya, kalau para istri yang mengatur sendiri keuangannya, jangan lupa libatkan suami dalam mengetahui kondisi keuangan keluarga ya meskipun hanya sebatas laporan singkat atau summary. Biar tidak jadi pusing sendiri dan lagi-lagi tidak ada dusta di antara kita 🙂

 

By | 2020-06-17T19:21:28+00:00 June 20th, 2020|Categories: #FinanceTalkWithUphiet|8 Comments

8 Comments

  1. […] Baca Selengkapnya […]

  2. Elsa Hayanin Lubis June 20, 2020 at 08:50 - Reply

    intinya gak ada patokan pasti ya mbak pokoknya disesuaikan sm kebutuhan masing2 keluarga hehe

    • uphiet June 20, 2020 at 10:58 - Reply

      betul, asal jangan lebih besar pasak daripada tiang, apalagi nyontek punya tetangga sebelah 😀

  3. Rania Fardyani June 21, 2020 at 19:38 - Reply

    Mencatat pengeluaran itu emang butuh si ceu KoKom alias Konsisten dan Komitmen ya, mba…
    Saya 1.5 tahun nyatet cashflow pake aplikasi baru kerasa manfaatnya sekarang saat tracing, lebih tau uangnya pada kemana aja abis gajian, hihihi 😁

    Tapi emang krusial banget sih pencatatan keuangan itu, masuk ke tahap awal financial planning…

  4. Rania Fardyani June 21, 2020 at 19:41 - Reply

    Emang krusial banget sih pencatatan keuangan itu masuk ke tahap awal financial planning…
    Tapi emang urusan catat-mencatat ini butuh ceu KoKom alias Konsisten dan Komitmen…
    Saya udah (atau baru?) 1.5 tahun nyatet cashflow pake aplikasi baru kerasa manfaatnya sekarang jadi mempermudah tracing, jadi tau kemana aja yang abis gajian, hihihi 😁

    • uphiet June 22, 2020 at 08:00 - Reply

      Iya kan, gak tiba-tiba clueless karena bingung duitnya habis buat apa aja

  5. Anton June 24, 2020 at 08:12 - Reply

    Terus terang, saya sendiri, sebagai suami sebenarnya kadang bertanya saldo terakhir pada istri bukan karena ingin melihat uang dipergunakan untuk apa. Biasanya cuma karena ingin tahu posisi keuangan saja

    Biasanya kalau disodorkan laporan keuangan, saya malah bilang untuk apa. Saya hanya butuh informasi saldo terakhir saja supaya bisa mengkalkulasi apakah dana tersedia untuk satu dua hal, atau tidak.

    Belajar dari pengalaman selama 19 tahun menikah, terganggu tidaknya pengeluaran itu bukan tergantung pada laporan keuangan sih.. hahahaha.. Istri saya mencatat lengkap dan saya bisa mengetahui posisinya, cuma sering kebutuhan tak terduga, atau darurat muncul yang menyebabkan keuangan terganggu. Laporan memang membantu mengetahui situasi dan pola, cuma dalam hidup banyak sekali hal yang tidak bisa diprediksi datang.

    Hal yang inilah yang lebih berperan dalam membuat kocar kacir keuangan rumah tangga.

    Tapi.. keren banget deh mau membuat laporan keuangan selengkap itu.

    • uphiet June 24, 2020 at 14:28 - Reply

      Nah, terima kasih telah menambahkan informasi dari sudut pandang suami 🙂
      Kenapa saya bikin laporan keuangan lengkap karena pada dasarnya sifat saya sendiri yang lebih ke perfeksionis dan mendetil, padahal suami cuma pingin tahu kalau misalkan mau beli sesuatu, kondisi keuangan kita seperti apa 🙂

Leave A Comment