Sulawesi Selatan 360: Toraja Utara – Palopo – Watampone (hari kedua)

Bangun pagi di Rantepao, Toraja Utara, diiringi dengan gerimis yang cukup lebat. Sudah berpakaian rapi, sudah siap jalan, ternyata cuaca kurang mendukung. Kami pun dengan santai menikmati sarapan nasi goreng di hotel sambil menikmati rintik gerimis dari balik jendela.

Dalam hati sebenarnya khawatir karena perjalanan hari ini lumayan panjang. Setelah mengunjungi dua obyek wisata di sini, kami berencana langsung meneruskan perjalanan melintasi Palopo, Luwu, Wajo, dan bermalam di kota Watampone yang berjarak 272km dari Toraja Utara. Tapi tetap harus yakin, pasti bisa…pasti bisa…

Kete Kesu

Setelah hujan reda, kami menuju Kete Kesu, hari masih pagi dan hawa dingin menyergap. Pemandangan menuju Kete Kesu benar-benar memanjakan mata. Hamparan sawah hijau dengan latar belakang bukit-bukit dan rumah adat tongkonan lagi-lagi membuat takjub.

Kete Kesu masih sepi pengunjung, loket tempat membeli tiket masuk pun masih tutup. Tapi kami diijinkan masuk ke dalam area wisata. Sisa penyelenggaraan acara penutupan Toraja Highland Festival masih terasa, banner dan bekas panggung semalam masih dibersihkan oleh para pekerja. Sayang sekali kami melewatkan acara semalam karena minim informasi dan lebih memilih istirahat memulihkan tenaga di penginapan.

Begitu masuk ke area wisata, kami disuguhi pemandangan jajaran tongkonan yang sudah berusia ratusan tahun lengkap dengan lumbung padi di depannya. Ada 6 tongkonan dalam satu area, dan beberapa lagi terlihat di kejauhan. Beberapa tongkonan di area utama sudah dialihfungsikan sebagai museum.

Setelah puas melihat tongkonan kami menuju ke arah pemakaman. Sayangnya hari itu saya saltum alias salah kostum. Awalnya tadi untuk menghemat waktu, sandal jepit yang biasa saya pakai sudah saya masukkan jok motor. Saya sudah berganti sepatu boot dan siap untuk perjalanan jauh. Karena sehabis hujan. permukaan jalan cukup licin, dan anak tangga menuju makam lumayan curam. Daripada jatuh gedebuk kan gak lucu ya, jadi saya memutuskan tidak mengeksplorasi lebih jauh area pemakaman. Suami pun akhirnya membatalkan naik ke pemakaman kalau saya gak ikut. Next time kali yaa…

Karena diburu waktu pun kami tidak berlama-lama di sana. Beberapa toko penjual suvenir baru bersiap-siap buka dan loket tiket pun baru dibuka. Setelah membayar tiket masuk yang cuma 15ribu per orang, kami memutuskan kembali ke penginapan untuk check out dan melanjutkan perjalanan.

Kalimbuang Bori

Tujuan kedua di Toraja Utara adalah situs megalitikum Kalimbuang Bori. Melewati jalan yang berliku dan mengandalkan google map kami sempat ragu akan tersesat, karena jalanannya bukan jalan raya dan cukup berliku-liku. Meskipun ternyata sampai juga…

Sekilas tempat ini mirip stonehenge di Inggris sana karena ada sekitar 102 menhir yang terpasang bukti dari telah diadakannya 102 upacara pemakaman  di area pemakaman tersebut. Menhir yang hanya bisa dipasang apabila ada seorang pemuka masyarakat yang meninggal dan diupacarakan secara adat dalam tingkat Rapasan Sapurandanan termasuk memotong minimal 21 ekor kerbau. Bisa dikatakan Kalimbuang Bori adalah area pemakaman masyarakat Toraja kasta tinggi.

Tidak mau mengulang pengalaman di Kete Kesu kali ini saya mengganti sepatu boot dengan sandal jepit andalan untuk menjelajah area Kalimbuang Bori. Meskipun sudah pakai sandal jepit kami melewatkan satu area pemakaman purba yang letaknya cukup di atas dan jalannya terjal. Lagi-lagi kami harus memikirkan keselamatan karena kami jauh sekali dari rumah dan perjalanan masih panjang 🙂

menuju Palopo

Selepas dari Kalimbuang Bori, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Palopo. Sempat mampir sebentar di Pasar Bolu untuk membeli kopi Toraja, kopi yang baru saja digiling dan wanginya menguar kemana-mana. Girang banget suami dapat kopi ini, dan pastinya harganya murah meriah dibanding kopi Toraja yang sudah jadi komoditas oleh-oleh di toko 🙂

Meninggalkan lanskap Toraja yang mempesona dan tongkonan yang cantik cukup sedih juga. Semoga suatu saat bisa kembali ke Toraja dan eksplore lebih banyak lagi keindahannya.

Jalur menuju Palopo merupakan jalur memutari pegunungan sehingga jalannya berkelok-kelok dan rawan longsor. Suasana dan hawa dinginnya mengingatkan jalur Pacet-Cangar, Jawa Timur yang rimbun akan pepohonan dan berudara segar.

Di salah satu warung di kawasan Puncak Palopo dekat jembatan gantung, sembari melihat pemandangan hijau di depan mata, akhirnya kesampaian menikmati seporsi mie instan kuah pakai telor. Hahaha…. Padahal udah kepingin dari awal naik kapal dari Surabaya, kesampaiannya baru di perjalanan ke Palopo, di atas ketinggian, dengan udara dingin. Nikmat banget sih ini 😀

Palopo

Tiba di Palopo saat duhur tiba, kami langsung menuju tujuan pertama, Jami’ Masjid Tua Palopo, menunaikan sholat duhur di masjid bersejarah yang didirikan oleh Raja Luwu. Lokasinya pun tidak jauh dari Istana Raja Luwu. Setelah selesai sholat kami langsung menuju lokasi istana.

Kami datang di hari Minggu, entah memang tutup atau karena hari Minggu, kami hanya bisa menikmati sejarah kerajaan Luwu ini dari depan. Untung saja pagar depannya dibuka, jadi kami bisa masuk meskipun tidak bisa masuk ke dalam bangunan.

Dalam satu lokasi, ada empat landmark bersejarah di area istana Kerajaan Luwu ini. Dekat dengan pagar masuk, terdapat sebuah monumen perjuangan rakyat Luwu berupa badik yang terhunus ke langit dengan tulisan “Toddopuli Temmalara” yang berarti “apa yang diucapkan, harus dilakukan”. Tiga lainnya adalah bangunan Istana Langkanae Luwu, Museum Batara Guru, dan Istana Palopo.

Karena tempat ini tutup, ada yang lebih menarik perhatian kami tepat di seberang pintu masuk. Yaitu, jajaran penjual durian 😀 Kalau di Jawa harga durian lumayan mahal, di sini cukup 60ribu dapat tiga buah. Jadilah kami, beristirahat dulu sambil makan durian sebelum melanjutkan perjalanan.

Luwu-Wajo

Jarak Palopo ke Wajo sekitar 165km atau kurang lebih 4 jam. Semakin cemas karena dari Wajo ke Watampone masih 3 jam lagi.  Bisa-bisa malam sampai di tujuan dan kami sama sekali buta seperti apa kondisi di jalan.

Sepanjang jalan Luwu-Wajo perjalanan sering tersendat karena banyak acara pawai Agustusan yang mengambil sebagian jalan. Lumayan ngebut karena kami tidak mau terlalu malam, sesekali berhenti di SPBU untuk isi bahan bakar atau melepas lelah di indomar*t/alfam*rt.

Bone

Mendekati kabupaten Bone, cobaan pertama datang. Ada dua jalan untuk menuju Watampone, via Solo (Saloki Sulsel ya guys) atau via Sengkang. Karena jalur via Sengkang lebih besar kami memilih lewat Sengkang meskipun google map menyarankan via Solo yang jalurnya lebih pendek. Kata google map sih selisih 5 menit.

Ternyata selisihnya lebih sejam, rasanya mau nangis 🙁 Sudah semakin gelap, tujuan kami masih sangat jauh dan kami berdua sudah sangat kelelahan. Sempat saya menyarankan untuk beristirahat di penginapan terdekat, tapi suami menolak. Harus sampai dan menginap di Watampone.

Cobaan kedua berupa jalan rusak di banyak bagian jalur menuju Watampone. Semakin-semakin kan nih bikin berantem aja karena saya menolak berhenti untuk makan malam dan maunya terus saja karena jalan semakin gelap gulita.

Memasuki Kabupaten Bone menuju Watampone pun terasa jauh, meskipun berjarak kurang lebih 1 jam. Kalau ditanya perjalanan paling berkesan dan akan dingat, nomer satu ini sih. Menguras tenaga lahir dan batin. Hahaha…

Memasuki Watampone, setelah melewati jalan-jalan yang gelap, memasuki Watampone dengan gemerlap perkotaannya rasanya luar biasa lega. Akhirnya… Kami memilih menginap di sebuah homestay yang memiliki review lumayan bagus, yaitu Sahabat Setia Homestay, lumayan dekat dengan pusat kota. Setelah mandi dan makan malam, langsung pulas tidur. Masya Allah nikmatnya…

Have a good journey,

2 thoughts on “Sulawesi Selatan 360: Toraja Utara – Palopo – Watampone (hari kedua)

Leave a Reply

Your email address will not be published.