Daytrip Surabaya: Bukit Jaddih – Surabaya North Quay – Kenjeran Park

Tidak tau jalan di Surabaya bukan berarti mati gaya kalau mau jalan-jalan. Di era digital sekarang ini, aplikasi semacam Google Map atau Waze pun bisa dimanfaatkan. Meskipun, beberapa kali juga pernah dibuat tersesat gara-gara alat canggih ini πŸ˜€

Setelah ketemuan dengan teman di pintu keluar terminal Purabaya Bungurasih, kami membulatkan tekad untuk nyebrang ke Madura. Tentu saja dengan mengandalkan Google Map, karena di antara kami berdua tidak ada yang tau pasti arah ke sana.

Bukit Jaddih

Setelah mengikuti arah petunjuk Google Map, menyeberangi jembatan Suramadu yang menggoda untuk menghentikan mobil dan foto-foto, melintasi jalanan kecil yang sepi dan kurang mulus, kami sampai di Bukit Jaddih dengan selamat.

Beberapa kali dipalak sama tukang parkir karena pindah mobil dua kali tapi kami berusaha menahan diri. Kan mau jalan-jalan, bukan cari partner berantem. Hehehe….

Bukit Jaddih panasnya minta ampun, karena bukit kapurnya yang berwarna putih ditambah sinar matahari jadinya panas dan silau. Jangan lupa siapkan kacamata. Saya lupa bawa dong, jadinya minjem. Aneh gak sih keliatannya? πŸ˜€

Hari itu ada yang foto pre-wedding juga di sana. Bikin baper diri ini yang saat itu masih jomblo dong πŸ™

Saat kembali ke Surabaya kami kembali mengikuti arahan Google Map. Tapi kali ini kami mencoba mengikuti rute yang berbeda, karena di Google Map terlihat ada jalan pintas ke arah Suramadu yang lebih dekat dibanding harus kembali ke Bangkalan dulu.

Kali ini bukan salah Google Map kalau ternyata jalan pintas tersebut tidak bisa dilewati karena ujung jalannya ditutup palang kayu. Daripada kembali ke arah Bangkalan, kami malah mengikuti mobil plat L yang ada di depan kami. Sepertinya sama-sama ke arah Surabaya…

Tapi ternyata kami adalah dua mobil yang tersesat. Mobil tersebut malah berhenti dan putar balik. Hahaha…. Alih-alih menuju pintu tol Suramadu, kami malah berada di jalan layang di atas pintu tol Suramadu. Setelah putar balik, kami berhenti sebentar di tepi jalan yang berhadapan langsung dengan selat Madura. Viewnya terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja.

Setelah puas berfoto-foto kami mencoba bertanya ke warga sekitar apakah ada jalan pintas menuju Suramadu. Ternyata jalan layang tersebut bisa dilewati untuk menuju ke sana, tapi harus melewati jalan makadam (bebatuan). Mau gak mau kami lewat sana daripada memutar arah kembali ke Bangkalan.

Jalannya agak horor karena tidak ada rumah penduduk, seperti bekas hutan yang dibuka jalan sehingga masih banyak pepohonan. Kami mengikuti truk bermuatan batu di depan mobil kami sambil berharap ban mobil tidak bocor atau mesin mobil mogok. Bisa berabe… Tidak berapa lama kami kembali ke jalan yang benar, alias menuju pintu tol Suramadu.

Surabaya North Quay

Kembali ke Surabaya tidak bisa dikatakan betapa leganya kami. Hiks, nekat ke Madura dengan hanya berdua, cewek-cewek pula. Waktu sudah menunjukkan lewat waktunya makan siang, kami bergegas menuju tujuan kedua yaitu Surabaya North Quay (SNQ).

SNQ berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Menempati lantai dua dan tiga dari Terminal Gapura Surya Nusantara, sementara lantai satu digunakan sebagai terminal penumpang. Fasilitas umumnya juga terjaga baik, misalnya toilet umum dan musholanya.

Di lantai dua biasanya digunakan sebagai tempat pameran, entah karya seni atau hasil karya pengrajin lokal dan UKM di Surabaya. Sedangkan di lantai tiga bisa memuaskan lidah kita dengan aneka kulineran yang berada di area indoor, sementara di area outdoor kita bisa duduk-duduk sambil menikmati pemandangan sepanjang Pelabuhan Tanjung Perak. Kalau beruntung seperti saya, kita bisa menyaksikan kapal pesiar bersandar.

Waktu pertama kali sampai di parkiran perlabuhan Tanjung Perak, saya sempat terkagum karena bangunan gedungnya yang mirip kapal. Tapi ternyata, kapal pesiarnya yang tingginya melebihi gedung tiga lantai SNQ. Pantas kenapa ada bendera Belanda di depannya.

Tidak setiap hari ada kapal pesiar bersandar, kalau mau ke sini untuk melihat kapal pesiar coba cek dulu jadwalnya di google. Kali ini kapal pesiar yang sedang bersandar adalah kapal MS Volendam Rotterdam.

MS Volendam Rotterdam berangkat dari Singapura dan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak agar penumpangnya yang sebagian besar adalah turis asing, bisa menikmati wisata di Surabaya. Kapal ini bersandar lebih dari sehari (overnight). Obyek wisata yang dikunjungi biasanya adalah House of Sampoerna, Tunjungan, Monkasel, Patung Joko Dolog, dan sebagainya. Tak jarang banyak turis asing yang berbaur dengan warga lokal di SNQ. Ada pula yang hanya menikmati suasana dariΒ deckΒ kapal.

Kalau ingin menikmati suasana romantis, coba ke sini menjelang matahari terbenam karena SNQ ini menjadi salah satu tempat favorit melihat sunset.Β Tapi romantisnya sama pasangan halalnya yaaa. Hehehe…

Kenjeran Park

Tapi hari itu kami sudah memilih lokasi lain untuk melihat sunset, jadi tidak perlu berlama-lama berada di SNQ. Setelah makan siang dan puas foto-foto, kami menuju ke lokasi ketiga yaitu Kenjeran Park alias Ken Park.

Ada beberapa tempat baru yang berada di area Kenjeran, yaitu Atlantis Land dan Jembatan Surabaya. Tapi karena kami datang sudah mulai sore, masuk Atlantis Land pun kepalang tanggung karena jam 6 sore sudah tutup. Mau ke Jembatan Surabaya agak ragu karena tempat itu sangat ramai (maklum masih tergolong wisata baru), apalagi setiap Sabtu malam ada pertunjukan Air Terjun Menari.

Jadilah kami menuju Sanggar Agung karena termakan iklan Google yang menampilkan indahnya sunrise di sana. Eh, tapi kami datang saat sunset. Tak apalah…

Sebenarnya kami tak tau dimana letak Sanggar Agung. Hahaha…. Sesampainya di parkiran kami malah berbelok ke komplek Patung Budha Empat Wajah (disebut juga Patung Brahma Empat Rupa). Setelah ambil foto beberapa kali, kami kembali ke parkiran sambil mencari tahu keberadaan Sanggar Agung.

 

Tak perlu berlama-lama menemukan Sanggar Agung karena letaknya tidak jauh dari sana. Tinggal ikuti langkah beberapa pengunjung. Hehehe…

Sanggar Agung ternyata adalah sebuah klenteng yang masih digunakan sebagai tempat ibadah. Kita tidak boleh sembarangan masuk ke dalam klenteng. Ada petunjuk arah bagi yang ke sana untuk ibadah atau sekedar melihat-lihat. Untuk yang sekedar berkunjung seperti kami, harus melewati jalur yang langsung menuju area belakang klenteng.

Area belakang klenteng langsung berhadapan dengan selat Madura. Berdiri megah patung Dewi Kwan Im dengan empat penjaganya yang ditopang oleh dua ekor naga. Nah di sinilah tempat iklan Google itu berada.

Ekspektasinya sih bisa sepi yaaaa, tapi ternyata Masha Allah ramenyaaa…. Pupus sudah dapat foto tanpa gangguan di sana sini. Hehehe… Tapi pada saat ke tempat ini kedua kalinya baru kesampaian sepi tapi ternyata gelap, karena tempat ini bukan spot sunset. Mungkin lain kali harus datang pas subuh kali…

Jadi, kalau ke Surabaya mau kemana dulu?

Have a great journey!

Β 

@uphiet_kamilah

13 thoughts on “Daytrip Surabaya: Bukit Jaddih – Surabaya North Quay – Kenjeran Park

  1. Surabayaaaa betul-betul banyak yang baru, betul-betul berubaaaah. Terakhir ke sana kapan ya … 2013 kalau nggak salah huhuhu sudah lama sekali euy!

  2. Bukit kapur itu pernah mau jdi tujuan, tp krn bnyk yg blg bnyk tkg palak, gk niat deh ke sana, mengurangi eseni wisata, lbh cocok wisata kriminal hahaha

    Yg sy blm itu nortquay atau apa td itu, sm k pelabuhan ny. Lain waktu kalau k Sby lg, mencoba ke sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *