Jalan Pagi di Kota Mataram, Mampir CFD Udayana

Akhir Oktober kemarin akhirnya saya mudik ke Mataram setelah 8 bulan lamanya terakhir ke sini. Kali ini pulang kampungnya benar-benar saya gunakan dengan mode warlok alias warga lokal. Gak ada agenda ke tempat-tempat wisata tertentu.

Salah satu kegiatan warga lokal Mataram yang saya lakukan adalah jalan-jalan ke CFD Udayana. Setiap hari minggu, Jl. Udayana memang ditutup untuk kegiatan car free day. Beberapa kali mendengar tapi saya belum tertarik ke sana karena malas sekali harus bangun pagi-pagi di hari Minggu 😀

Jalan-jalan ke CFD ini kami manfaatkan sekaligus untuk berolahraga, membakar kalori karena kebanyakan kulineran di Mataram yang memang rasanya selalu juara. Hehehe…

Sebenarnya jarak dari rumah ke Jl. Udayana hanya 2,5 km, mau naik motor kok nanggung. Akhirnya kami memutuskan jalan kaki dari rumah dengan rute memutar yang ternyata kalau dikalkulasi adalah 8,4 km. Waduh jauhnya… tapi karena sudah terlanjur mengiyakan, ayo aja deh 😀

Memulai rute kami dari Jl. Terusan Bung Hatta, kami berjalan ke arah utara menuju persimpangan jalan Jl. Jend. Sudirman. 2,3 km pertama kali lalui dengan semangat, terlebih jalanan ini cukup lengang dan lebar. Melintasi hijaunya area persawahan menambah segar suasana. Masih selepas subuh, kami bertemu beberapa jamaah yang baru keluar dari masjid.

Sesampai di persimpangan, kami menuju arah barat. 1,2 km menuju persimpangan rembiga. Daerah ini dikenal sebagai tempat kuliner sate rembiga yang terkenal seantero Lombok. Sepagi ini, salah satu warung sate rembiga yang katanya pelopor sate terkenal di area ini, Hj. Napisah sudah buka lapak. Fokus ya, jangan beli sate dulu. Hehehe…

Kami terus melanjutkan perjalanan ke arah barat menuju Bundaran Selaparang, cuma 650 meter. Bundaran ini gampang dikenali karena ikon miniatur pesawat yang berada di tengah-tengah persimpangan ini. Ikon yang menjadi tanda bahwa tempat ini dulu dikenal sebagai bandara Selaparang, sebelum akhirnya dipindah ke Praya, Lombok Tengah. Selain itu kawasan ini memang terdapat Pangkalan Udara TNI.

Di persimpangan ini, kami berbelok ke arah selatan, memasuki Jl. Udayana. Sudah terlihat beberapa motor diparkir di pinggir jalan. Kami melintasi jalanan sepanjang 2 km sampai Islamic Center ini bersama banyak warga lokal yang menghabiskan pagi untuk berjalan-jalan dan njajan di sini.

Di kanan kiri trotoar sudah berjajar deretan pedagang makanan maupun barang-barang kebutuhan lainnya. Mulai dari berjualan cemilan, kue-kue, bahkan makanan berat seperti nasi. Jajanan tradisional maupun jajanan kekinian dengan mudah bisa kita temukan. Kalau saya, itung-itung membaca peluang pasar. Sapa tau nanti kalau sudah pindah ke sini, kepikiran buat memeriahkan jualan di CFD 😀

Kami  tidak banyak beli jajanan, malah hampir tidak beli karena kok saya gak lapar mata pas melihat jejeran makanan-makanan enak ini. Kami hanya beristirahat sebentar sembari menikmati es jeruk peras yang kami beli. Satu-satunya makanan yang kami beli adalah krupuk kulit. Krupuk kulit di Mataram ini memang terkenal enak, jadinya beli satu buat cemilan di rumah. Padahal kemarin sore baru beli krupuk kulit langsung di daerah penghasilnya. Hehehe…

Deretan penjual sudah habis ketika kami sampai di depan Islamic Center. Istirahat sebentar meluruskan kaki sambil menikmati pemandangan Islamic Center yang cantik dari sudut manapun. Terlebih sekarang juga terdapat bangunan baru Bank NTB yang tidak kalah cantiknya bersanding dengan masjid kebanggaan Pulau Lombok ini.

Rute kami berikutnya, kembali ke timur, melintasi jalan raya Pejanggik, menuju kembali ke Jl. Terusan Bung Hatta sejauh 2,5 km. Rute terakhir ini melewati jalan besar yang didominasi beberapa sekolah menengah pertama dan menengah atas unggulan, kantor-kantor propinsi, pendopo dan kantor walikota, kantor dan pendopo gubernur, Taman Sangkaraeng yang jadi ikon kota, bekas bioskop Irama dan juga tugu nol KM kota Mataram. Trotoar yang luas membuat kami nyaman melintasi jalan ini.

Rute terakhir ini kami lalui dengan tenaga yang masih tersisa. Hehehehe…. capek juga ya jalan sepanjang kurang lebih 8,5 km. Kami beberapa kali istirahat sambil menikmati jalanan kota Mataram yang masih lengang di pagi hari. Mampir sebentar di minimarket untuk beli air minum dan melanjutkan perjalanan lagi, untuk pulang ke rumah.

Kami sempat melalui jalan pintas di 500 meter terakhir. Melintasi salah satu warung ayam taliwang legendaris, yaitu Restoran Taliwang H. Moerad. Tapi sepertinya saya tidak akan mau melintasi jalan ini lagi sambil berjalan kaki. Daerah ini adalah daerah pemukiman orang Bali, dimana rata-rata mereka memiliki anjing sebagai hewan peliharaan. Saya yang belum terbiasa bertemu anjing di jalan seperti yang lazim ada di Mataram ini cukup deg-degan kalau diawasi dari jauh oleh hewan ini. Meskipun suami bilang mereka hanya menyalak karena kita orang asing dan tidak akan menyerang kalau kita tidak menyerang duluan, tetap aja deg-degan setengah mati. Apalagi di jalan ini anjing yang kita temui lumayan besar, mirip banget sama anjing Scooby Doo. Mau lari takut dikejar, mau noleh takut dikejar juga, pura-pura tenang tetap aja takut dikejar. Hehehehe…

Untungnya jalanan ini hanya sejauh 500 meter sampai memasuki perumahan tempat tinggal kami yang bebas anjing. Hehehe…

Menempuh waktu total 2 jam 15 menit, kami sudah mencatat 13.658 langkah. Nah sekali jalan sudah lebih dari 10.000 langkah nih seperti yang disarankan 😀

Capek, iya. Tapi segar sekali setelah berjalan kaki sejauh ini. Apalagi kalau rutenya semenyenangkan ini. Yuk, jalan kaki lagi…

Have a good journey,

7 thoughts on “Jalan Pagi di Kota Mataram, Mampir CFD Udayana

  1. Eeh mbk..aku barusan balik liburan nih dari Lombok, kemarin nginep nya di hotel Prime park itu..pas emang lagi ada car free day nya…kalo gak salah jalan Udayana itu deh..sepintas baca”..aku juga sempet nyobain sate Rembiga ibu Napisah itu hehehe

  2. Uwaaah lumayan jauh loh mba 8km-an.😄😄.

    Aku pernah sih jalan kaki 12 km, tapiiiii winter saat itu. Jadi jujur ga capek dan ga panas. Kalo di Indonesia ga pernah sih 🤣. Mungkin bakal lebih lemes, Krn panas kan.

    Cuman kalo dah terbiasa, harusnya oke aja yaa.

    Samaaa, aku sbnrnya suka anjing. tapi kalo yg hobi barking, ya takut juga. Apalagi dulu pernah dikejar 3 ekor sekaligus hahahahaha. Anjing liar pula. Kan takut rabies yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *