Live on Board (LOB) 2 Hari 1 Malam di Taman Nasional Komodo – Hari Pertama

/, NTT, Traveling/Live on Board (LOB) 2 Hari 1 Malam di Taman Nasional Komodo – Hari Pertama

Live on Board (LOB) 2 Hari 1 Malam di Taman Nasional Komodo – Hari Pertama

Setelah bangun dan sarapan, rencananya kami akan dijemput oleh travel agent yang akan memfasilitasi LOB kita kali ini. Tapi berhubung kami membawa sepeda motor, akhirnya kami yang ke kantor travel agent tersebut untuk sekalian titip sepeda motor.

Mobil berhenti di dekat Dermaga Wisata Kampung Ujung. Di sini adalah salah satu titik kemacetan. Selain perbaikan jalan, perbaikan trotoar, dan perbaikan area wisata kuliner, aktivitas pagi hari banyak menumpuk di sini seperti keriuhan aktivitas dermaga, keluar masuk tempat pelelangan ikan (TPI), atau angkot-angkot yang hobi ngetem tapi gak mau minggir 😀

Kami menunggu di tepian dermaga wisata, kapal motor Sayang Katanya yang akan kami pakai selama 2 hari telah siap dan boat kecil alias dinghy telah siap mentransfer kami dari darat menuju kapal Sayang Katanya. Oh ya, travel agent yang kami gunakan adalah YourFlores dan sebuah kapal motor cantik yang akan membawa kami berlayar ke TN Komodo bernama Sayang Katanya.

Karena terus kelupaan foto di kapal cantik ini, saya ambil di google aja ya 🙂

Trekking ala Pulau Kelor

Setelah beramah tamah dengan guide dan kru kapal, perjalanan menuju destinasi pertama dimulai. Baru beberapa saat berlayar, kapal kami dihentikan sebuah boat berisi petugas setempat. Ternyata pemeriksaan rutin surat ijin jalan dan lain-lain. Wkwkwk, sempat kaget kirain acara yang di tivi-tivi. Hahaha….

Tujuan pertama adalah Pulau Kelor. Berhadapan langsung dengan Pulau Flores, pulau kecil ini masih sepi ketika kami tiba. Ada beberapa penjual makanan dan minuman serta suvenir, menandakan bahwa pulau ini memang jujugan wisatawan. Pemandangan sekitar sudah membuat betah berlama-lama di sini, atau mungkin karena kemarin pas di Labuan Bajo belum ketemu pantai.

Tapi bukit Kelor lebih menggoda untuk didaki. Puncak bukitnya menjanjikan pemandangan yang lebih indah. Saya trekking sendirian hanya ditemani guide, karena suami memilih bersantai-santai di tepi pantai dan mengobrol dengan penjaga pulau.

Itung-itung pemanasan sebelum trekking di Padar. Meskipun bukitnya terlihat kecil, jalur trekkingnya lumayan terjal. Sesekali harus merangkak kalau tidak ingin tergelincir. Karena jalur trekkingnya berupa batu dan pasir yang kalau salah pijak saja bisa bahaya. Tapi begitu sampai di puncak bukit, pemandangannya teramat cantik. Beberapa pulau kecil terlihat di kejauhan.

Masalah trekking naik ke puncak ternyata tidak sesulit saat harus menuruni bukit. Pijakan yang tidak terlalu kuat, batu dan pasir yang kalau salah injak bisa membuat kaki tergelincir. Dan saya sempat mencederai kelingking kaki kiri karena salah pijakan 🙁

Turun dari bukit Kelor, istirahat sebentar dengan sebuah kelapa muda sebagai pelepas dahaga. Sambil berbincang dengan penjaga pulau yang juga berjualan makanan dan minuman di tepi pantai. Meskipun ada beberapa tenda berjualan, tidak ada sampah berserakan karena pemilik warung di sini memang penjaga pulau yang diminta untuk menjaga pulau sembari berjualan untuk menambah penghasilan. Oh ya mereka juga membuat kerajinan kayu yang dibentuk menyerupai komodo. Kalau ada rejeki lebih boleh disisihkan untuk beli oleh-oleh di sini ya 🙂

Snorkeling di Pantai Manjarite

Tujuan kedua ini adalah sebuah pantai di pesisir pulau Flores, jadi bukan pulau-pulau kecil. Waktu pertama kali akan berlibur ke Labuan Bajo, saya sempat menandai tempat ini sebagai tujuan saat bersepeda keliling Labuan Bajo di hari pertama nanti. Tapi karena tidak menemukan akses jalur darat, saya sempat menghapusnya. Eh, ternyata masuk dalam tujuan trip kali ini. Kalau rejeki memang gak kemana 😀

Kami berganti menumpangi dinghy untuk menuju Pantai Manjarite. Lagi-lagi hanya kapal kami yang berada di sana. Kami berjalan-jalan sebentar di sepanjang jembatan menuju pantai sembari berfoto-foto. Pemandangannya semakin membuat bersyukur tinggal di Indonesia, ya kaaaan 🙂

Setelah berkeliling sebentar, suami bersiap untuk snorkeling. Saya menikmati pemandangan saja. Hehehe…. Karena gak bisa berenang, saya memilih tidak merepotkan guide dan suami saya 😀

Oh ya, saya secara tidak sengaja melihat sebuah plang nama sebuah hotel terkenal berada di salah satu bukit di dekat Manjarite ini. Apa mungkin di tempat yang out of nowhere (tidak ada hunian atau keramaian) tapi sangat indah akan didirikan sebuah hotel? Coba nanti kalau yang berkesempatan ke sini perhatikan ada plang ini atau nggak ya. Jangan-jangan saya salah lihat 🙂

Ketemu Komodo di Pulau Rinca

Salah satu habitat komodo ini berjarak 1-2 jam dari Pantai Manjarite. Kami disambut ranger di depan pintu masuk dermaga. Ranger ini akan menemani kami berkeliling mencari jejak atau mungkin bertemu langsung dengan komodo. (Lagi-lagi) kami jadi satu-satunya pengunjung siang itu. Sedang dilakukan pembangunan di pulau ini (as you know) sehingga terdapat banyak pekerja dan beberapa material bangunan di sana sini.

Setelah membayar tiket dan briefing sejenak tentang do’s & dont’s selama berkeliling pulau kami segera memulai perburuan mencari jejak komodo. Kami memilih rute pendek saja karena cuaca siang yang panas dan kemungkinan bertemu komodo di rute yang panjang pun tidak terlalu besar.

Komodo pertama yang kami temui adalah komodo betina yang sedang menjaga sarangnya. Meskipun seperti berdiam santai dekat sarang, komodo betina ini dalam posisi siaga satu alias siap menerkam. Selama kurang lebih 2 bulan, komodo betina ini tidak pernah meninggalkan sarangnya sampai telur komodo menetas sehingga tidak bisa berburu mangsa dan kelaparan. Tidak jarang bayi komodo yang baru menetas pun bisa jadi santapan komodo, jadi pengunjung pun harus jaga jarak kalau tidak mau jadi kudapan komodo. Hiii….

Meskipun yang kami lewati adalah rute pendek, kami tidak bertemu banyak komodo. Alasannya karena cuaca sangat panas saat kami datang, memang siang hari sih sekitar jam 1-2 siang. Komodonya banyak yang mager dan cari tempat berteduh. Ditambah lagi tidak ada bau amis yang bisa mengundang kedatangan mereka. Kata ranger komodo biasa berkumpul di pagi hari dekat dapur, karena saat itu dilakukan aktivitas memasak yang aromanya mengundang kedatangan komodo.

Sempat bertemu komodo kecil di dekat bangunan toilet, bayangkan pas keluar toilet ada komodo yang nungguin di depan. Hehehe… saya saja nahan pipis sampai balik lagi ke kapal entar.

Kalau anak komodo rata-rata hidupnya di atas pohon selama 2-3 tahun. Bertahan hidup dengan memangsa hewan-hewan kecil seperti tokek dan sejenisnya. Karena komodo adalah hewan kanibal, sesama komodo pun bisa saling mangsa apalagi anak komodo yang masih kecil.

Setelah berkeliling, capek, kepanasan, ranger mengajak kami menuju spot yang kemungkinan besar didatangi komodo. Kami menuju sebuah bangunan yang sedang dalam pembangunan. Di bawah pondasi bangunan tampak seekor komodo sedang leyeh-leyeh, menurut informasi para petugas di bagian belakang bangunan juga ada komodo yang lebih besar. Eh bener dong, ada 2 komodo besar sedang mager di bawah pondasi bangunan. Mungkin karena di sana teduh ya, berduaan enak leyeh-leyeh dan dipancing apapun sama ranger mereka males keluar 😀

Salah satu peringatan yang diberikan oleh ranger kepada kami selama treking adalah tidak boleh mengayun-ayunkan benda sembari berjalan. Hal itu akan memancing perhatian komodo, mungkin disangkanya monyet (salah satu makanan komodo) yang sedang bergelantungan kali ya. Hal ini tidak sengaja salah satu dari kami yang melakukan dengan mengayunkan botol minum sembari berjalan. Sudah putus asa kami membujuk komodo keluar dari bawah bangunan, akhirnya kami mengakhiri pencarian dan berjalan menjauhi gedung. Tiba-tiba saja salah satu dari komodo besar tersebut keluar dari persembunyian dan berjalan cepat ke arah kami, untung saja berjalannya dari arah depan jadi kami bisa waspada dan tetap menjaga jarak. Coba kalau munculnya dari arah belakang kami dan kami gak tau. Aduh!!!

Komodo adalah hewan liar yang hidup di habitat liarnya. Beda seperti kebun binatang atau taman safari yang habitatnya buatan dan makanannya disediakan manusia, di pulau Rinca (maupun pulau Komodo) komodo hidup di habitat mereka dan mencari makan sendiri seperti monyet, rusa, kerbau, dan hewan lainnya yang juga hidup bebas di sana. Tidak seperti kebun binatang atau taman safari dimana hewan yang menyesuaikan, di sini pengunjung/manusia yang harus menyesuaikan seperti menjaga jarak aman karena komodo adalah hewan predator. Jangan harap menemukan komodo jinak di sini, yang jinak cuma berupa patung komodo dalam bentuk suvenir. Hehehe….

Mengunjungi Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca

Setelah selesai bertemu Komodo, jadwal selanjutnya adalah melihat sunset di dekat Pulau Kalong. Tapi jam masih menunjukkan pukul 4 sore, matahari masih beberapa jam lagi tenggelam. Ajakan menyambangi kampung penduduk Pulau Rinca pun kami iya kan. Kampung ini terletak di sisi lain Pulau Rinca, namanya Desa Pasir Panjang. Desa ini adalah satu-satunya desa di Pulau Rinca. Dulu tidak ada pagar pembatas yang melindungi desa ini dari jangkauan komodo, jadi tidak heran jika seringkali di pagi hari, komodo mampir ke dekat desa ketika aroma masakan dari dapur rumah penduduk tercium. Membayangkan tiba-tiba komodo muncul di dekat rumah kita jadi merinding sendiri ya. Hehehe…

Mata pencaharian utama penduduk desa Pasir Panjang adalah nelayan. Kalau di Jawa rata-rata setiap rumah punya sepeda motor, di sini setiap rumah punya perahu motor untuk mencari nafkah. Desanya tidak terlalu luas, kami berjalan dari ujung ke ujung desa. Rata-rata bentuk rumahnya adalah rumah panggung khas Nusa Tenggara. Di sini sudah difasilitasi dengan sekolah SD dan SMP, untuk SMA mungkin mereka harus bepergian dulu ke Labuan Bajo.

Saya membayangkan alangkah baiknya kalau penduduk di desa ini diberi keterampilan untuk membuat suvenir atau oleh-oleh yang bisa dijual kepada wisatawan yang berkunjung. Sehingga kesejahteraan penduduknya pun bisa meningkat. Menurut pendapat saya sih 🙂

Menyaksikan Flying Foxes keluar dari sarangnya di Pulau Kalong

Sehabis berkunjung ke Desa Pasir Panjang, kami kembali mendekati Pulau Kalong yang tadi kami lewati. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya butuh 15 menit dengan perahu motor. Karena sunset pun masih lama, kami menyempatkan diri untuk leyeh-leyeh di bagian atas kapal. Dengan semilir angin, berbincang berdua, sembari membaca buku yang selalu saya bawa saat berlibur.

Kami tidak turun dari kapal, karena pulau ini memang tidak bisa dikunjungi (dikelilingi oleh hutan mangrove yang sangat lebat). Kami hanya akan menyaksikan dari dekat kelelawar yang jumlahnya ribuan akan terbang keluar dari pulau itu setelah sunset.

Beberapa waktu sebelum sunset, beberapa kapal yang serupa dengan perahu motor kami dan satu kapal phinisi berhenti tidak jauh dari kapal kami. Nampaknya memang di sini salah satu spot terkenal untuk menyaksikan matahari tenggelam.

Matahari tenggelamnya memang nampak cantik sekali, membuat gak berhenti-berhentinya bersyukur diberi kesempatan menyaksikan kebesaran Allah di tempat seindah ini.

Setelah matahari tenggelam, beberapa kelelawar mulai terbang keluar dari pulau. Tapi baru ketika matahari benar-benar tenggelam, ribuan kelelawar berlomba-lomba keluar dari sarangnya.

Kami bermalam di tempat ini dengan beberapa kapal yang tadi juga berhenti di dekat kami. Sayup-sayup terdengar musik dari kapal phinisi, yang sepertinya terisi oleh wisatawan bule. Obrolan seru juga terdengar dari perahu motor di belakang kami. Awalnya membayangkan bermalam di tengah laut yang gelap agak-agak serem, tapi ternyata ‘tetangga’ meramaikan suasana. Hehehe, apalagi kami cuma berdua.

Niat untuk stargazing terpaksa kami batalkan karena udara dingin malam apalagi di tengah laut. Di tengah pandemi seperti ini kami tidak mau memaksakan fisik untuk mengisi liburan kami, sedikit gejala flu seperti radang tenggorokan atau pilek bisa bikin kami panik. Jadi lebih baik dipakai istirahat sambil charge energi buat trekking pagi di Pulau Padar besok.

Have a good journey,

By | 2020-11-18T11:46:04+00:00 November 21st, 2020|Categories: Flores, NTT, Traveling|Tags: , , , , , , |3 Comments

3 Comments

  1. Lia The Dreamer November 21, 2020 at 10:39 - Reply

    Pemandangan daerah sana memang juara banget-banget ya 😍 aku lihat pemandangan pantai-pantainya tuh keren banget dan bersihhh. Semoga kelestarian alamnya bisa terlindungi untuk waktu yang sangat lama.

    Bersyukur banget Kak Uphiet bisa ketemu dengan komodo di pulau komodo 😍. Aku sering dengar banyak kejadian orang yang berkunjung tapi nggak bertemu dengan komodo sama sekali, kan sedih. Kak Uphiet bahkan sampai dikejutkan dengan komodonya 🤭 aku ikutan tegang bayangin ada komodo yang datang cepat ke arah rombongan. Kaget dan takut ya 🤣

    • uphiet November 22, 2020 at 09:19 - Reply

      Kalau mau lihat komodo memang sebaiknya pagi atau sore saat cuaca tidak terlalu panas. Komodo gak usah panas2an 😀

Leave A Comment